Ash

Menjadi bagian dalam pembuktian bahwa Islam adalah Rahmatan lil Alamin


4 Comments

Membuat monitor CCTV di rumah sendiri

Self-assemble and Low-cost design of home CCTV with single input activation.

Tinggal di negeri orang yang tidak terlalu lancar bahasanya, menuntut kita untuk selektif dalam membuka pintu rumah apabila ada tamu tak diundang. Kalau mau melihat siapa tamu yang datang lubang mengintip yang di pintu, kita harus repot-repot jalan dulu ke depan pintu terus mengecek, itu pun sebaiknya langkah kita tidak kedengeran ama orang diluar biar tidak dianggap php. Selain itu klo kayak rumah saya yang gak ada kaca ngintipnya, ya jadi gak bisa pake cara ini, hehe.. Mengintip lewat jendela, khawatir pas sama2 melihat jendela jadi kepergok gak enak. yang paling enak adalah lewat CCTV. Masalahnya cctv klo beli jadi itu mahal, oleh karena itu untuk menghemat biaya, maka kita perlu memutar otak sedikit supaya bisa bikin sistem cctv sendiri yang murah meriah.

Akhirnya saya bikin sistem cctv sendiri di rumah demi menghemat biaya. Idenya simple yaitu menggunakan komponen kamera dan monitor dari mobil truk yang biasa dipakai di jepang, dan tentunya kita bisa pilih2 kamera dan monitornya sesuai kebutuhan, hehe.. selain itu karena mau hemat listrik juga, jadi sistemnya hanya kita hidupkan (on) secara manual klo memang ada yang ngebel rumah kita, selain itu kita off. Jadi secara fungsional tidak persis seperti cctv yang bisa merekam video, tapi disini lebih kepada untuk monitoring real time aja, dan saya rasa fungsi ini sudah lebih dari cukup. Untuk detailnya dapat dilihat di bawah ini:

Komponen yang diperlukan:

  1. Kamera.
    • bisa yang mana aja, yang penting anti air supaya aman klo kena ujan.
    • beli di amazon: https://www.amazon.co.jp/gp/product/B00GSFIJS6/ref=oh_aui_detailpage_o00_s00?ie=UTF8&psc=1
  2. Monitor.
    • bisa yang mana aja, yang murah aja cukup
    • beli di amazon: https://www.amazon.co.jp/gp/product/B0079RJ4AE/ref=oh_aui_detailpage_o00_s00?ie=UTF8&psc=1
  3. Adaptor 12V.
    1. intinya untuk powernya kamera dan monitor.
    2. beli di amazon: https://www.amazon.co.jp/gp/product/0101626185/ref=oh_aui_detailpage_o02_s00?ie=UTF8&psc=1
  4. Kabel power adaptor cabang 2.
    • untuk menghemat adaptor, kita gunakan power cabang
    • beli di amazon: https://www.amazon.co.jp/gp/product/B00X5D240S/ref=oh_aui_detailpage_o09_s00?ie=UTF8&psc=1
  5. Kabel data.
    • Biasanya dapet sekalian kamera, butuh sepanjang yang kita butuhkan dari lokasi kamera ke lokasi monitor. klo kamera diatas sudah include kabel data sepanjang 6 meter, klo kurang maka beli lagi di amazon.
  6. Kabel power.
  7. Switch on/off
    • Karena kita ingin hemat listrik, maka cctv didesain hidup atau mati sesuai kebutuhan sehingga switch on/off adaptor dibutuhkan. bisa beli di amazon atau donkihote.
    • beli di amazon: https://www.amazon.co.jp/%E3%83%A4%E3%82%B6%E3%83%AF-YAZAWA-%E3%83%A4%E3%82%B6%E3%83%AF%E3%82%B3%E3%83%BC%E3%83%9D%E3%83%AC%E3%83%BC%E3%82%B7%E3%83%A7%E3%83%B3-%E7%9C%81%E3%82%A8%E3%83%8D%E3%82%BF%E3%83%83%E3%83%971%E5%80%8B%E5%8F%A3-Y02F110WH/dp/B016JIODR2/ref=sr_1_5?s=electronics&ie=UTF8&qid=1469580229&sr=1-5&keywords=%E9%9B%BB%E6%BA%90%E3%82%B9%E3%82%A4%E3%83%83%E3%83%81

Cara membuat:

  1. Siapkan kabel sepanjang yang kita butuhkan dari lokasi kamera ke lokasi monitor di dalam rumah.
  2. Pasang seluruh komponen
  3. selamat mencoba

 

to be continue klo sempet, hehe..


2 Comments

Pengalaman Melahirkan di Jepang (Part 3)

Pengalaman Melahirkan di Jepang, Part 3
Dokumen yang perlu diurus pasca melahirkan

Pregnancy experiences in Japan, Part 3
Necessary document post-delivery
(English summary in bottom part)

Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan pengalaman awal kehamilan sampai melahirkan di jepang Part 1 dan Part 2. Pada tulisan ini dibahas detail mengenai administrasi yang perlu diurus setelah melahirkan agar bayi kita bisa hidup di Jepang secara legal, dan tentunya mengurus dokumen-dokumen agar kita bisa mendapatkan fasilitas untuk biaya berobat bayi gratis, serta subsidi bulanan untuk bayi yang digunakan untuk mensupport kehidupan pasca melahirkan di Jepang.

Vector business concept in flat style - paper documents and workplace - contract management

*image credit to http://www.shutterstock.com

List Dokumen yang Perlu Diurus

Setelah selesai dengan ke-hectic-an urusan melahirkan di rumah sakit, maka urusan yang tidak kalah penting untuk diselesaikan adalah administrasi bayi pasca melahirkan di Jepang. Saya sempat googling2 mencari informasi, sempat bingung karena informasi lama dan agak berbeda, dan juga ada perubahan perubahan aturan yang ada, jadilah saya hanya bisa mengambil kesimpulan garis besar urusan2 yang perlu dilakukan. Untuk lebih pastinya, saya coba bertanya-tanya langsung di kantor kecamatan (Kuyakusho) tempat saya tinggal yaitu Miyamae-ku, Kawasaki-shi, Kanagawa-ken. Pada intinya, beberapa dokumen yang perlu diurus adalah:

  1. Lapor kelahiran (shussei todoke 出生届)
  2. Buat Asuransi kesehatan bayi (hoken 保険書)
  3. Daftar tunjangan biaya bulanan bayi (Jidouteate 児童手当)
  4. Buat kartu berobat bayi gratis (iryoushou 医療証)
  5. Selesaikan urusan tunjangan melahirkan (shussan ikuji ichijikin 出産育児一時金)

Empat urusan diatas (1-4) diatas dilakukan di kuyakusho dan selesai dalam satu hari. No 5 baru bisa diurus setelah dapat bon total terakhir dari rumah sakit. Selain lima dokumen diatas, tiga (3) dokumen lain yang tidak kalah penting dan diurus di kantor imigrasi jepang serta KBRI yaitu:

  1. Bikin Resident Card (VISA) bayi (Zairyuu kaado 在留カード) di kantor Imigrasi Jepang.
  2. Buat Surat Keterangan Lahir (SKL) di KBRI
  3. Buat Passport Bayi di KBRI.

Yang cukup menarik disini adalah, bikin zairyu card bayi bisa didahulukan dibandingkan mengurus passport bayi. Hal ini karena bayi yang baru lahir harus segera dilaporkan ke kantor imigrasi jepang dalam waktu 30 hari setelah kelahiran agar mendapatkan visa dan bisa tinggal secara legal di jepang. Selain itu, mengurus SKL membutuhkan 2 hari, ditambah passport sekitar seminggu. Agak mepet kalo harus urus passport dulu kemudian baru zairyu card, kecuali kita memang memiliki keluangan waktu mengurusnya secara serial. Detail administrasi tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

 

  1. Lapor kelahiran (shussei todoke)

Lapor kelahiran, atau biasa dikenal dengan istilah shussei todoke (出生届), adalah prosedur melaporkan bahwa bayi kita telah lahir dan ingin didaftarkan pada kartu keluarga kita (juuminhyo). Dari pihak rumah sakit, kita akan mendapatkan sertifikat kelahiran (shussei shoumeisho出生証明書) yang kemudian sertifikat itu kita bawa ke kuyakusho untuk diproses lebih lanjut. Saat sampai di kuyakusho, bilang aja ke petugas disana klo kita mau lapor kelahiran bayi (shussei todoke) nanti mereka kasitau ke loket nomor berapa. Klo di miyamae kuyakusho, ke loket nomor 4.

Dokumen yang perlu dibawa: Shussei shoumeisho, resident card dan hoken ortu, boshitecho.

Output dari sini adalah: Juri shomeisho (受理証明書), dan juuminhyou (住民票) yang update dengan nama bayi kita.

 

  1. Buat Asuransi kesehatan bayi (hoken / hokensho)

Sistem asuransi kesehatan di jepang bisa menggunakan asuransi dari pemerintah / national health insurance (kokumin kenkou hoken 国民健康保険) atau dari swasta. Untuk pelajar biasanya hoken pemerintah, klo orang yang kerja bisa pakai asuransi dari perusahaan. Manfaat membuat asuransi ini sangat besar karena biaya kesehatan di Jepang sangatlah mahal, dan ini juga adalah bentuk kepedulian pemerintah kepada warganya dalam hal kesehatan. Membuat asuransi ini sangat mudah prosesnya, cukup datang ke kuyakusho dan menunjukan bahwa kita (ortu) menggunakan hoken dari pemerintah maka anak kita juga akan terdaftar otomatis dalam hoken pemerintah. Di miyamae kuyakusho, buat hoken ini di loket no 4, barengan dengan shussei todoke.

Dokumen yang perlu dibawa: Shussei shoumeisho, resident card dan hoken ortu, boshitecho.

Output dari sini adalah: kartu asuransi (hokensho) atas nama anak kita.

 

  1. Daftar tunjangan biaya bulanan bayi (Jidouteate)

Pemerintah Jepang memang sangat serius dalam men-support warganya untuk melahirkan dan punya anak. Anak yang lahir ada rezekinya sendiri, dan ini di-implementasikan dalam bentuk tunjangan bulanan dari pemerintah kepada bayi. Besar tunjangannya klo gak salah bervariasi untuk setiap kota, tapi untuk Kawasaki besarnya adalah 15.000 yen/bulan. Klo di miyamae kuyakusho, daftarnya di loket nomor 5, sebelahnya shussei todoke. Disini yang sedikit unik adalah, sebelum kita bisa daftar tunjangan ini, kita harus menyelesaikan dulu urusan hoken dengan loket sebelah. Hal ini karena pendaftarannya perlu mencatat nomor hoken sang bayi. Tadinya saya mengurus semuanya parallel, tapi kata orangnya tidak bisa, sebaiknya tunggu dulu di antrian hoken, dan setelah selesai baru mengurus tunjangan dll. Untungnya hoken jadinya gak lama, mungkin menunggu antrian sekitar 30 menit.

Dokumen yang perlu dibawa: Resident card dan hoken ortu, buku tabungan ortu, hanko ortu, hoken anak.

Output dari sini adalah: telah terdaftar dalam tunjangan bulanan, dan brosur2 tentang jidoteate.

 

  1. Buat kartu berobat bayi gratis (iryousho)

Selain kartu asuransi diatas, biaya berobat bayi di Jepang itu semuanya GRATIS asalkan kita membuat iryousho. Luar biasa memang, seharusnya tidak ada lagi keraguan buat warga jepang untuk menikah dan punya anak, tapi masih saja problem social yang satu ini tidak terselesaikan di Jepang. Bayi sakit apapun, di rumah sakit manapun, asalkan bisa menunjukan iryousho ini, maka seluruh biaya pengobatannya menjadi NOL. Orang kuyakusho sempet bilang sich, ada beberapa rumah sakit yg belum menerima iryousho ini, tapi klopun kita harus berobat disana, maka cukup lampirkan receipt pembayaran, dan seluruh biaya akan diganti reimburse oleh pemerintah melalui kuyakusho.

Dokumen yang perlu dibawa: Resident card dan hoken ortu, hanko ortu, hoken anak.

Output dari sini adalah: kartu berobat bayi iryousho (医療証).

 

  1. Selesaikan urusan tunjangan melahirkan (shussan ikuji ichijikin)

Seperti yang telah saya jelaskan di tulisan sebelumnya part 2, bahwa biaya melahirkan di jepang mendapat subsidi sebesar 420.000 yen dari pemerintah. Uang ini bisa disetorkan langsung ke rumah sakit atau kita ambil tunai setelah selesai melahirkan. Untuk yang memilih cara kedua, tentu saja perlu datang ke kuyakusho untuk mengurus ini. Untuk yang memilih cara pertama, apakah perlu untuk melapor lagi? Sebaiknya ya melapor juga. Saya sendiri melapor lagi karena biaya melahirkannya lebih kecil dari subsidi yang diberikan, jadi saya bisa ambil uang kelebihannya dengan cara melapor ini.

Dokumen yang perlu dibawa: Resident card dan hoken ortu, buku tabungan ortu, hanko ortu, hoken anak, dan receipt biaya total rumah sakit.

Output dari sini adalah: Uang sisa yang akan ditransfer ke tabungan kita.

 

  1. Bikin Resident Card (VISA) bayi (Zairyuu kaado) di kantor Imigrasi Jepang.

Nampaknya urusan ke kantor imigrasi, baik itu imigrasi Jepang ataupun KBRI, selalu saja dinodai dengan tidak lengkapnya dokumen yang dibawa. Saya biasanya selalu teliti untuk masalah kayak gini, menyiapkan berbagai cadangan dokumen, tapi untuk dokumen yang tidak telalu dekat kaitannya, biasanya tidak saya bawa. Contohnya ketika mengurus ini, seluruh dokumen yang diminta sudah saya bawa dengan lengkap, kemudian tiba-tiba saja dibilangin petugasnya klo saya perlu menunjukan surat keterangan student. Tentu saja saya tidak menduga ini karena seluruh dokumen yang diperlukan itu yang terkait dengan bayi saja, kenapa jadi perlu dokumen itu? Ada kemungkinan karena saya statusnya student dan (agak aneh mungkin) punya anak. Kemudian saya tunjukan dokumennya dalam softcopy dari hape saya dan mereka bilang perlu dokumen tersebut dalam bentuk print. Yowes jadinya saya gagal mengurus resident card hari itu di shin sugita. Kemudian saya tanya apakah saya bisa mengurus ini di shin-yurigaoka (karena lokasinya lebih dekat rumah saya), dan mereka bilang boleh, jadinya keesokan harinya saya mengurus di shin-yurigaoka dengan membawa tambahan dokumen student certificate (dan transkrip dan surat monbusho buat jaga jaga) dan Resident card nya selesai hanya dalam hitungan sekitar 30 menit.

Photo 8-17-16, 13 46 36

Dokumen yang perlu dibawa: Form aplikasi, form quisioner, letter guarantor, Parpost ortu, passport anak klo udah jadi, Juri shoumeisho dan Juminhyou terbaru (dapat dari kuyakusho). Buat tambahan kita yang student: student certificate (transcript dan keterangan beasiswa buat jaga-jaga).

Output dari sini adalah: Resident card bayi (tanpa foto).

 

  1. Buat Surat Keterangan Lahir (SKL) di KBRI

Surat keterangan lahir (SKL) adalah pengganti akte kelahiran anak yang lahir di Jepang. Hal ini karena yang boleh mengeluarkan akte kelahiran adalah pemerintah di Indonesia, maka anak2 yang lahir di luar harus mengurus SKL yang kemudian SKL ini bisa dikirim ke Indonesia untuk diurus akte kelahirannya dan dimasukkan ke dalam KK kita di Indonesia. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, selalu saja ada sedikit masalah kalau mengurus dokumen di kantor imigrasi (dalam kasus ini KBRI), yaitu kurang sedikit dokumen, yang mana dokumen itu tidak diminta di list persyaratan. Phew.. Untungnya saya bawa dokumen lebih jadi saya tidak perlu mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Ketika mengurus SKL ini, dokumen saya yang “kurang” tersebut itu adalah fotokopi resident card ortu (bapak dan ibu). Walaupun di KBRI ada mesin foto kopi, katakanlah yang mengurus dokumen ini bapaknya, klo si bapaknya kagak bawa ktp ibunya, maka selesailah itu (DONE!) pengurusan dokumen, pulang, trus besoknya baru bisa dateng lagi ke KBRI. Pengurusan SKL tidak bisa parallel dengan passport, jadi harus bikin SKL dulu, trus SKL jadi setelah 1-2 hari, kemudian ambil SKL sambil urus passport, dan passport yang udah selesai bisa dikirim gak harus diambil di KBRI. Intinya saya perlu ke KBRI minimal 2 kali untuk pengurusan dokumen SKL dan passport. SKL memang bisa dikirim ke alamat penerima, tapi apa artinya dikirim klo ujung2nya kita harus ke KBRI lagi untuk mengurus passport. Dan Urutan pengurusan dokumen itu harus SKL dulu baru passport, gak bisa dibalik. Tapi alhamdulillah semua dokumen selesai dengan lancar.

Syarat SKL

Dokumen yang perlu dibawa: Form aplikasi, passport ayah dan ibu (asli dan fotokopi), Fotokopi akta/buku nikah, Fotokopi surat keterangan lahir (shussei shoumeisho atau shussei todoke), Surat kelahiran dari pemerintah (Juri shoumeisho) asli, Fotokopi halaman dalam boshitecho (Yang ada nama ayah, ibu, anak, jam lahir, dll), Biaya 1200 yen. Tambahan: Fotokopi resident card ortu.

Output dari sini adalah: Surat keterangan lahir (SKL) asli dan fotokopi.

 

  1. Buat Passport Bayi di KBRI.

Setelah SKL selesai, saya ke KBRI lagi untuk mengambil dan menggunakan fotokopiannya untuk pengurusan passport. Lagi lagi ada saja dokumen yang kurang (padahal tidak ada di list persyaratan), untuk pembuatan passport ini, dokumen saya yang “kurang” tersebut adalah fotokopi akte/buku nikah ortu (hahaha, itu klo sang ortu ke KBRI ngurus passport tapi gak bawa buku nikahnya/fotokopinya, maka dia harus pulang lagi kali ya..). Untungnya setelah passport jadi, bisa dikirim dengan menggunakan letter pack, jadi kita tidak harus balik lagi ke KBRI. Satu hal yang unik adalah, dalam pengurusan passport, maka pasfoto bayi termasuk ke dalam persyaratan wajib, berbeda dengan resident card jepang yang tidak mewajibkan foto bayi. Memfoto bayi untuk jadi pasfoto cukup tricky, karena bayi fotonya sambil tiduran dan kepalanya gerak gerak. Aturan/Proporsi foto adalah 70-80 % wajah dengan background warna putih serta baju berwarna putih/terang.

Syarat paspor

Dokumen yang perlu dibawa: Form aplikasi (permohonan SPRI), fotokopi resident card ortu, fotokopi akte lahir bayi, Bukti domisili (Juuminhyou), fotokopi passport ortu, 4 lembar pasfoto bayi ukuran 3×4, dan biaya 2650 yen. Tambahan: Fotokopi akte/buku nikah ortu, Resident card dan passport asli ortu.

Output dari sini adalah: Passport bayi (yang ada fotonya, hehe).

 

Summary

Demikian pengalaman saya mengurus dokumen untuk bayi saya yang baru lahir. Perjuangan tidak selesai sampai disini, karena lembaran baru kehidupan akan dimulai bersama sang bayi tercinta.

In conclusion, the necessary document that need to be handle after the delivery are:

  1. Register that our baby had been born to the kuyakusho (shussei todoke 出生届)
  2. Apply for National Health Insurance (hoken 保険書)
  3. Apply for Baby Allowance (Jidouteate 児童手当)
  4. Apply for Baby Health Card (iryoushou 医療証)
  5. Completing the document of Birth lumpsump/Allowance (shussan ikuji ichijikin 出産育児一時金)
  6. Make resident card (Zairyuu kaado 在留カード) in Immigration office Tokyo/Yokohama.
  7. Make passport for your baby in your embassy.

Hope this information useful for you.

 

 


5 Comments

Pengalaman Melahirkan di Jepang (Part 2)

Pengalaman Melahirkan di Jepang, Part 2
Menjelang dan Ketika Melahirkan

Pregnancy Experiences in Japan, Part 2
Approaching the delivery
(English summary in bottom part)

Tulisan ini adalah kelanjutan dari pengalaman kami menjalani proses kehamilan dan melahirkan di Jepang Part 1. Pada tulisan ini akan dijelaskan khusus mengenai pengalaman ketika menjelang melahirkan, berbagai persiapannya, mengenai subsidi biaya melahirkan, dan pengalaman melahirkan itu sendiri. Adapun mengenai detail dokumen yang perlu diurus setelah bayi kita lahir dijelaskan di part 3.

baby girl announcement card

*image credit to http://www.shutterstock.com

Menjelang Melahirkan

Ada banyak sekali perasaan campur aduk menjelang melahirkan. Memasuki trimester ketiga, banyak tips2 dan saran untuk ibu hamil dari berbagai sumber agar proses melahirkan bisa lancar. Masa masa ini juga masa yang paling menyenangkan karena kita juga excited mencari nama2 terbaik untuk putra/putri kita. Disini saya tidak akan bahas mengenai tips2 tersebut, tapi saya akan jelaskan lebih detail mengenai proses apa saja yang perlu kami jalani di rumah sakit di Jepang ini.

Saya juga sempat bingung, bagaimana cara meminta biaya subsidi melahirkan yang katanya akan dikasih oleh pemerintah jepang. Subsidi ini namanya: one time lumpsum for delivery, shussan ikuji ichijikin (出産育児一時金). Besar subsidi ini untuk Tokyo dan sekitarnya adalah 420.000 yen. Saya sempat mampir ke kuyakusho untuk bertanya-tanya, dan ternyata biaya tersebut bisa diambil dengan 2 cara: dibayarkan langsung ke rumah sakit, atau diganti tunai. Untuk kebanyakan rumah sakit jepang, biasanya sudah menyediakan form dari rumah sakitnya bahwa rumah sakit tersebut berhak mengambil biaya melahirkan dari kuyakusho langsung dengan melampirkan dokumen yang ditanda tangani (dan inkan) oleh kita dan istri. Di tama byouin sudah ada dokumen tersebut jadi cukup ttd dan inkan, dan serahkan dokumen itu ke tama byouin ketika akan rawat inap melahirkan. Dokumen tersebut didapat saat pertama kali dapat penjelasan tentang rumah sakit, dan ada kertas form dalam bahasa jepang. Untuk diganti tunai, biasanya teman2 yang melahirkannya di Indonesia, bisa melampirkan tanda bukti melahirkan dari rumah sakit di Indonesia, dan struk biaya. Walaupun nanti biayanya dibawah nilai subsidi pemerintah, kita akan tetap dapat sejumlah subsidi tersebut kata teman saya yang sudah pengalaman langsung. Saya sendiri menggunakan cara pertama. Intinya, tidak perlu ke kuyakusho, uang tersebut akan cair dengan otomatis ke rumah sakit, asalkan kita pertama sudah melaporkan hamil ke kuyakusho, memasukkan tanggal perkiraan lahir, dan sudah dapat boshitecho (silahkan baca part 1).

 

Pemeriksaan oleh Bucho

Sekitar di bulan ke 6 (week 24-28), akan ada pemeriksaan rutin yang dilakukan oleh kepala department obgyn di rumah sakit tersebut (bucho). Biasanya setiap pemeriksaan rutin, kami selalu mancari jadwal yang cocok dengan kita dan memang dokternya perempuan. Nah khusus di periode itu, pemeriksaan Harus dilakukan oleh bucho karena supaya ada crosschecking antara dokter. Sayangnya, di tama byouin buchonya itu laki-laki, jadilah terpaksa dilakukan pemeriksaan dengan dokter cowo. Sekitar beberapa minggu sebelumnya kami diberitau bahwa akan ada pemeriksaan dengan bucho, dan pada saat itu ada pilihan apakah mau menggunakan ruangan khusus atau tidak. Klo di ruangan khusus, nanti bisa melihat monitor USG lebih jelas buat suami, karena selama ini suami gak boleh masuk ke ruangan usg, akan tetapi ada bayaran tambahan sekitar 5000 yen. Klo mau akan dibooking ruangannya saat itu, klo tidak ya pemeriksaan biasa (tapi tetep ama bucho). Setelah berpikir beberapa detik, akhirnya diputuskan tidak usah menggunakan ruangan tersebut karena bayar, haha..

Ketika pemeriksaan dengan bucho, beliau menyapa dengan cool dan suara yang berat (biasanya dokter cewe dan suaranya agak2 nyaring). Kemudian ditanya macam2, dan dilakukan pemeriksaan usg. Saya menunggu di ruang dokter seperti biasa, tapi ternyata dokternya sangat baik dan saya boleh ikutan masuk ke ruang usg. Trus saya dikasih liat di monitor ada apa aja, dll. Wah diluar dugaan ternyata buchonya baik, atau mungkin mereka berusaha memberikan service terbaik karena terpaksa kali ya.. saya pernah bilang ke susternya soalnya bahwa klo mencari jadwal saya selalu mencari dokter yang perempuan. Pihak rumah sakit juga pernah confirm ke saya, klo saat melahirkan namun dokter yang ada laki-laki bagaimana, saya bilang tidak apa-apa karena kondisi itu kan terpaksa. Pada bulan ke 6 itu juga, sang bucho menanyakan apakah mau mengetahui jenis kelamin anaknya atau tidak, tentu kami bilang mau banget, dan akhirnya diberitahukanlah bahwa anak kami adalah perempuan.. yeeaah.. di bulan ke 5 dokter udah pernah kita tanyain sich jenis kelamin anaknya apa, tapi beliau menjawab dengan jawaban diplomatis, sepertinya anaknya perempuan (onna kamo shiremasen), jadilah kami putuskan untuk bertanya kembali di bulan2 selanjutnya supaya lebih pasti, hehe..

 

Pre-mama Orientation

Kelas persiapan menjadi ibu (dan juga bapak) atau disebut pre-mama orientation (プレママオリエンテーション) diadakan oleh rumah sakit sebanyak satu kali yaitu di sekitar minggu ke 30. Kelas ini wajib diikuti dan suami juga disuruh untuk datang supaya calon ibu dan bapak bisa saling memahami. Kelasnya sekitar 30 menit biasanya, tapi khusus untuk kami kemarin ternyata 30 menit gak selesai karena ada proses menerjemahkan dari Japanese ke English, haha.. jadilah kami diminta untuk mendatangi pre-mama orientation ke 2 yang waktunya diset sekitar 1 jam. Pre-mama orientation itu private, sendiri-sendiri, bukan digabung ama pasien lain, jadi kita bisa bertanya2 dengan bebas. Pre-mama dilakukan oleh suster senior yang ada di rumah sakit tersebut, bukan oleh dokter, dan karena kami menggunakan translator dari RS, maka jadwal pre-mama dengan jadwal pemeriksaan dokter harus sedekat mungkin supaya total durasi pengunaan translator kurang dari 3 jam. Yang agak ribet adalah jadwal pre-mama bookingnya di lantai 3 sedangkan dokter di ruang dokter lantai 1, jadi setelah saya booking jadwal dokter untuk pertemuan selanjutnya, saya ke lantai 3 untuk booking pre-mama, masalahnya jamnya yang deket dengan pemeriksaan dokter gak available, jadilah kami harus ganti jadwal dokter di lantai 1 yang memang di hari yang sama dengan dokter perempuan yang ada (dan harus di jadwal yang harinya juga available buat pre-mama orientation). Jadilah agak bolak balik ngurusnya tapi Alhamdulillah bisa terselesaikan masalahnya.

Pre-mama orientation pertama dijelaskan mengenai manfaat ASI (bonyuu 母乳). Dijelaskan panjang lebar mulai dari manfaatnya bagi ibu menyusui maupun bagi sang bayi. Intinya mereka ingin mengencourage agar sang ibu menyusui dengan ASI, dibandingkan dengan susu formula. Mereka bertanya kami rencananya seperti apa, kami bilang sebisa mungkin ASI, jadi kami juga bilang bahwa klopun nanti ketika lahir ASInya sedikit tidak apa-apa, mohon jangan ditambahkan dengan susu formula kecuali dokter menilai berbahaya untuk kesehatan sang anak baru kami bersedia dikasih sufor. Ternyata sang suster pun juga sepakat dengan pernyataan kita. Kemudian dia menjelaskan mengenai teknik2 pijat yang bisa dilakukan calon ibu supaya ASI bisa keluar dengan lancar.

Karena waktunya sudah gak cukup, akhirnya dilanjutkan penjelasan tentang barang-barang yang perlu dibawa ke rumah sakit, barang-barang yang disediakan rumah sakit, jadwal dan aturan membesuk (menkai 面会), dan mengenai aturan ketika melahirkan. Dijelaskan bahwa yang boleh menemani hanya suami. Nah, disini saya agak kurang memperhatikan penjelasannya, saya pikir karena boleh yasudah. Ternyata yang dimaksud boleh itu hanya di labor room saja, bukan di delivery room. Ini saya baru nyadar di pre-mama kedua, mungkin karena saat itu agak buru2 jadi saya iya2 saja supaya cepat.

Nah, di pre-mama pertama juga, saya jelaskan ke pihak rumah sakit klo di week 38 saya ada urusan di luar jepang (shucchou 出張) yaitu conference, jadi kalo seandainya istri saya melahirkan pada minggu ini bagaimana? Boleh tidak kalo yang menemani melahirkan itu teman? Kan aturannya hanya suami yang boleh, karena masalahnya istri saya tidak bisa bahasa jepang. Susternya agak bingung ngejawabnya gimana, tapi karena ini kondisi penting, jadinya selesai pre-mama, saya diminta ke lantai 3 untuk ketemu ama kepala susternya. Ketika ketemu, saya jelaskan kondisinya dan mereka pun bertanya. Salah satu poinnya adalah bagaimana masalah pertanggungjawabannya? Karena ketika nanti melahirkan, ada begitu banyak hal yang perlu dipertimbangkan dan butuh persetujuan, seperti induksi, transfusi, sesar, dll. Klo yang menandatangani temannya bagaimana? Kekhawatiran tersebut sangat wajar mengingat status “teman” itu tidak terlalu kuat dibandingkan “keluarga”. Kemudian saya bilang ke mereka bahwa yang bertanggung jawab tetap saya tapi yang menanda tangani seluruh dokumen adalah teman saya. Mungkin nanti saya akan buatkan surat kuasa supaya lebih kuat. Kemudian mengenai keputusan yang perlu diambil, biasanya kami akan mengikuti apa keputusan rekomendasi dari dokter jadi tidak masalah. Akhirnya susternya bisa mengerti dan memperbolehkan dan termasuk dalam kondisi khusus.

Selesai pre-mama pertama, sekitar 2-4 minggu kemudian kami datang lagi untuk pre-mama yang kedua. Disini dijelaskan lebih detail mengenai proses melahirkan apa saja tahapan2annya, tanda2 akan melahirkan, dan cara menelpon rumah sakit ketika akan melahirkan. Apa saja penjelasannya, akan saya jabarkan di subbab selanjutnya. Saya juga tunjukkan surat kuasa yang saya buat, dan mereka bilang sudah OK. Pre-mama ke dua waktunya sejam jadi banyak hal yang bisa ditanyakan. Disini juga saya jelaskan mengenai makanan yang bisa dimakan oleh istri saya hanya seafood dan sayur. Klo daging hanya yang halal, klo tidak halal tidak usah daging. No pork, sake, dan segala yang sejenisnya.

Disini juga saya baru mengerti bahwa proses melahirkan itu pertama masuk ke labor room dulu baru ke delivery room. Yang boleh ditemani itu hanya di labor room, adapun di delivery room tidak boleh ditemani. Whaat?! Saya berusaha nawar2 dan nakut nakutin sedikit susternya.. ini istri saya gak bisa bahasa jepang, nanti gimana komunikasinya?? Namun usaha saya sia-sia, mereka bilang bahwa di ruang delivery, semua instruksinya simple, dan mereka katanya akan belajar dan berusaha ngomong dalam bahasa inggris. Instruksinya hanya push, don’t push, deep breath, relax. Selain itu ruang labor sama ruang delivery itu sebelahan, jadi kita boleh menunggu diluar ruangan labor/depan ruang delivery. Selain itu ruang delivery tidak ditutup dengan pintu, hanya ditutup oleh gorden, jadi saya masih bisa mendengarkan prosesnya dari luar (bahkan ngintip2 dari luar juga bisa). Mereka juga menjelaskan bahwa mereka ada ruangan khusus klo memang suami mau masuk menemani saat delivery, dan ruangan itu bayar lagi, dan ruangan itu sepaket dengan ruang VIP (yang jenis LDR) jadi bakal ada biaya tambahan yang cukup mahal. Wah klo udh gini saya yang skak mat, gak tau mau nawar apa lagi. Akhirnya saya bilang nanti saya pertimbangkan dulu kira2 ruangan biasa saja atau yg VIP itu. Saya masih belum paham sich apa alasan tidak boleh masuk itu, tapi katanya itu sudah aturan RS. Pernah denger sich cerita (di suatu tempat di jepang) bahwa kalo ditemani suami dan suaminya pingsan ngeliat darah, para dokter dan suster disana katanya bakalan ribet ngurusnya. Selain itu katanya ada juga yang suaminya jadi ilfil ngeliat istrinya ketika proses melahirkan, dll.. Entahlah, mungkin itu statistik jadi mereka membuat kebijakan kayak gitu, atau apapun alasannya intinya proses delivery tidak boleh ditemani oleh suami. Mungkin ini yang menjadi nilai minus dari rumah sakit ini menurut saya.

 

Tanda-tanda akan Melahirkan

Pihak rumah sakit menjelaskan juga lebih detail mengenai tanda tanda akan melahirkan, dan proses melahirkan. Apabila tanda tanda berikut muncul maka dipersilahkan untuk menelpon rumah sakit dan kemudian datang ke rumah sakit. Dijelaskan juga tanda2 apa yang bakal muncul dan belum diperbolehkan untuk menelpon atau ke rumah sakit, karena klo kita ke rumah sakit saat itu, maka kemungkinan kita akan disuruh pulang lagi.

Tanda tanda melahirkan ada 5 (+ 1 tanda darurat):

  1. Kontraksi (jintsuu 陣痛)
    Rasa sakit yang periodik di perut, mirip mules juga. Interval/jedanya bervariasi.
  • Sudah ada kontraksi/sakit di perut. Namun belum terlalu sakit dan jedanya masih jarang.
  • Kontraksi muncul dengan jeda 10 menit, atau dalam 1 jam terjadi kontraksi sebanyak 6 kali atau lebih.
  1. Flek/bercak (oshirushi おしるし)
  • Cairan berwarna kecoklatan atau pink, pendarahan mirip menstruasi.
  • Cairannya disertai darah segar atau pendarahan yang banyak.
  1. Pecah Ketuban (hasui 破水)
    Ada seperti air mengalir keluar dari kelamin, tapi tidak disertai perasaan mau kencing. Volumenya bisa sedikit ataupun banyak. Warnanya bening seperti air biasa. Ketika ada air keluar seperti ini dan kita ragu apakah benar pecah ketuban atau tidak, langsung telpon rumah sakit dan periksa disana.
  1. Rasa sakit yang sangat kuat dari perut, atau bagian tubuh lain.
  2. Sakit kepala hebat, vertigo, mata kunang kunang.
  3. Tidak ada pergerakan bayi (baby’s kick) selama lebih dari 1 jam

Adapun dari kelima tanda diatas, hanya diperbolehkan ke rumah sakit apabila muncul tanda tanda nomor 1b, 2b, 3, 4, 5 (dan 6 emergency). Untuk 1a dan 2a belum diperbolehkan ke rumah sakit. Klo kita nekat ke rumah sakit, biasanya akan disuruh pulang lagi ama pihak rumah sakit, belum boleh masuk ke ruang labor, boros waktu, tenaga, transport. Kenapa disuruh pulang lagi? Karena jarak dari 1a ke 1b bisa jadi masih lebih dari 1 hari jadi dianggap masih lama. Istri saya termasuk darah rendah, jadi dokter bilang klo tanda no 5 kemungkinan besar tidak akan muncul. Ketika tanda2 tersebut muncul, maka telepon ke rumah sakit sambil memberitau informasi ttg kondisi istri kita. Contoh cara menelpon rumah sakit bisa download disini.

Photo 8-17-16, 15 31 33 (1)

Adapun penjelasan proses melahirkan secara umum dibagi ke 4 Fase:

  1. Fase kontraksi sampai bukaan maksimal.
    Pada fase ini, kita berada di ruang labor / ruang kontraksi (jintsuushitsu 陣痛室). Fase ini bisa berlangsung antara 10-12 jam untuk orang yang melahirkan pertama kali, atau 4-6 jam untuk yang sudah pernah melahirkan. Untuk yang bayinya besar, bisa jadi lebih lama lagi. Nah saya lupa nanya ke susternya, ini dimulai dari ketika kontraksi sudah periode per 10 menit atau bukan, tapi kayaknya ketika periodenya sudah mulai sering. Pada fase ini, istri diminta untuk bernafas secara normal, dan ketika makin sakit diharapkan ambil nafas lebih dalam dan keluarkan seperti meniup lilin. Disini kita boleh makan, minum, atau sambil melakukan hal lainnya.
  1. Fase mengeluarkan kepala bayi.
    Apabila bukaan telah maksimal, maka istri akan dipindahkan ke ruang melahirkan (bunbenshitsu 分娩室). Disini adalah proses inti dari melahirkan yaitu mengeluarkan kepala bayi. Fase ini bisa berlangsung sekitar 2-3 jam untuk melahirkan pertama, atau 1 – 1,5 jam untuk yang sudah pernah melahirkan. Apabila kepala bayi sudah keluar, insya Allah proses selanjutnya jauh lebih mudah. Ketika kontraksi datang, maka kita harus tetap tenang (ochitsuite 落ち着いて) kemudian tarik nafas dalam dalam (shinkokyuu 深呼吸) sebanyak 2 kali, kemudian dorong /mengejan (ikinde いきんで). Kalau sakit, maka ambil nafas sekali lagi baru dorong. Ketika kontraksinya hilang, maka ambil nafas dalam2 lagi dan jangan mengejan. Begitu terus timingnya sampai bayi berhasil didorong keluar. Setelah bayi berhasil didorong keluar, maka kepalanya akan keluar duluan dan katanya susternya bakal ngomong (kode) atama ga detekimashita (頭が出てきました). Ini adalah tanda bahwa fase ini telah berhasil dilewati dan sang ibu sudah tidak boleh mendorong (mengejan) lagi.
  1. Fase mengeluarkan bayi dan plasenta.
    Setelah kepala bayi keluar, maka sang ibu sudah tidak boleh mendorong (mengejan) lagi karena katanya dorongannya bakal sangat kencang dan bayi bisa merosot cepat. Yang perlu dilakukan ibu pada fase ini adalah nafas pendek dan cepat seperti orang ngos-ngosan, hu..hu..hu.. katanya sich mereka bakal ngomong (kode) mou ikimanaide (もういきまないで) yang artinya sudah tidak perlu didorong lagi. Pada fase ini, para suster bakal menarik pelan pelan sang bayi supaya bisa keluar dengan tenang. Setelah bayi keluar semua, mereka katanya bakal ngomong omedetou gozaimasu yang artinya selamat. Jadi Ibu udh bisa tenang. Setelah itu mereka akan mengeluarkan plasenta, bisa terasa sakit bisa juga tidak, tapi katanya tidak akan sesulit mengeluarkan bayi.
  1. Kanguru care.
    Pada fase ini, bayi akan diletakan diatas dada sang ibu, jadi bisa terjadi skin contact langsung pada saat itu juga. Kemudian juga ketika ASI sang ibu sudah keluar, sang bayi bisa langsung menyusu pada ibunya. Banyaknya ASI yang keluar bagi tiap ibu berbeda2 volumenya, ada yang langsung banyak ada yang sedikit sedikit, tapi sang ibu tidak perlu khawatir karena katanya lama-lama juga akan keluar banyak.

 

Barang yang perlu dibawa ke Rumah Sakit

Barang barang dan dokumen yang perlu dibawa ke rumah sakit udah kami persiapkan sebelum week 37, supaya klo ternyata lahirnya di week 37 udah siap pergi ke rumah sakit. Barang barang apa saja yang perlu dibawa ada dikasih tau di buku petunjuk rumah sakit. Selain itu juga mereka ngasih tau barang apa saja yang akan disediakan dari rumah sakit, jadi tidak semuanya perlu kita bawa.

Untuk Tama byouin, semua perlengkapan bayi disediakan dari rumah sakit, jadi yang perlu dibawa adalah perlengkapan ibu, dan perlengkapan bayi ketika keluar rumah sakit. Barang yang perlu dibawa adalah:

  1. Kartu berobat, hoken, boshitecho, hanko, uang deposit 5man, uang untuk keperluan lain lain, alat tulis dkk.
  2. Pajama panjang yang kancing depan, untuk melahirkan.
  3. Stagen, atau bahasa jepangnya jutsugoyou haraobi (術後用腹帯). Di tama byouin basement ada yang jual, atau klo beli di luar, bisa juga produk sejenis seperti sofutobirei (ソフトビレイ) atau wesutonippa (ウェストにッパー). Bawa minimal 2 biar bisa ganti.
  4. Makanan, minuman, sedotan. Air putih disuruh minum minimal 1 botol yang 2L sehari (dan airnya beli sendiri di konbini, gak disediain RS, haha)
  5. Perlengkapan ibu selama di RS: Pajama menyusui (bagusnya yg kancing depan), pakaian dalam, handuk, alat mandi, tisu, earphone klo mau nonton tv, sandal, obat obatan klo ada.
  6. Perlengkapan bayi: sapu tangan gauze (ガーゼハンカチ), baby lotion yg milky type, sama baju untuk pulang dari RS ke rumah.
  7. Lain lain yg gak disuruh bawa tapi perlu: Jam meja buat timer bayi menyusui, karena untuk bayi baru lahir perlu diatur jadwal dan durasinya.

 

The Main Event: Melahirkan

Melahirkan (bahasa jepangnya ada 2: shussan 出産 atau bunben 分娩) adalah proses yang kami tunggu2 dan harap2 cemas menghadapinya. Selain karena ini pertama kali, tidak ada keluarga juga yang datang ke jepang jadi semua perasaan campur aduk. Impian semua calon ibu sepertinya sama, bisa melahirkan dengan lancar, normal, serta keamanan jiwa untuk ibu dan bayi. Namun tidak semuanya itu ideal, setiap orang akan menghadapi ujian dan kondisinya masing2, jadi kita harus selalu siap dengan segala hal yang akan terjadi.

Istri saya melahirkannya melebihi waktu perkiraan lahir. Diperkirakan lahir 30 Mei tapi sampai awal Juni tak kunjung muncul tanda2nya. Periksa rutin terakhir dokter di week 39 dibilang bahwa udah tinggal menunggu saja, dan klo sampai week 41 gak keluar juga maka kami harus segera masuk rumah sakit dan diinduksi. Jadwal masuk rumah sakit adalah 6 Juni pagi, 7 Juni di induksi sampai 8 Juni, klo gak ada tanda2 juga maka 9 Juni di sesar. Kami mengikuti aja saran dokternya yang terbaik. Intinya sudah tidak ada kontrol rutin lagi dan datang selanjutnya adalah ketika melahirkan atau jadwal induksi tersebut.

Namun takdir berkata lain, kamis malam jam 11an, istri saya ragu kok ada keluar air tapi gak ada perasaan kencing. Airnya sedikit jumlahnya. Wah, ini adalah salah satu pertanda air ketuban pecah, namun kami sama2 ragu apa benar pecah atau tidak. Tapi karena susternya pernah bilang bahwa tanda pecah ketuban itu memang tidak bisa dipastikan, maka silahkan telpon saja dan datang supaya diperiksa. Akhirnya saya telpon taxi dan rumah sakit. Persiapan sudah oke, dan kami berangkat ke rumah sakit. Tiba di rumah sakit masuk lewat pintu emergency, melapor satpam, kemudian ke receptionist emergency. Setelah itu disuruh ke lantai 3 tempat melahirkan. Disana dicek apakah memang betul pecah ketuban atau enggak oleh susternya dan ternyata memang betul pecah ketuban. Akhirnya masuk ke labor room dan istri saya disuruh tidur disana. Saya juga boleh menemani dan duduk di kursi di samping. Istri dipasang berbagai sensor di perutnya untuk mendeteksi denyut bayi, mirip alat cek NST. Setelah selesai memasang, maka hanya tinggal menunggu saja. Ditunggu sampai bukaan maksimal baru masuk ke ruang delivery. Sambil menunggu kita boleh makan, minum, atau tidur juga gpp. Karena itu tengah malam, akhirnya saya dan istri memutuskan untuk tidur saja sebentar supaya ada tenaga. Dan saya pun tidur di lantai, untung bawa sejadah jadi pake alas sejadah, hehe..

Sekitar subuh saya bangun untuk shalat, istri juga bangun dan mungkin gak bisa tidur karena udh deg2an juga. Sambil menunggu kita makan snack dan minum. Tidak sabar menanti kehadiran buah hati. Pagi suster dan dokter datang untuk mengecek, ternyata bukaan pintu rahim masih sangat kecil. Baru 1-2 cm. lalu dokternya bilang, karena ini sudah pecah ketuban, maka harus di induksi. Akhirnya saya dan istri setuju kemudian di induksi. Dosis pertama diberikan sedikit dulu. Lumayan ada efeknya tapi masih kecil banget. Istri saya mulai terasa sakit kontraksi, tapi bukaan masih sekitar 2-3 cm. setelah 2 jam, dosis ditingkatkan. Bacaan sensor juga menunjukan pola kontraksi sudah normal, tapi bukaan pun masih belum maksimal, hanya sekitar 3-4 cm. Dosis ini dibiarkan sekitar 2 jam juga. karena ternyata bukaan tak kunjung maksimal, dosis sudah ditingkatkan, dan air ketuban sudah mau habis, maka dokter mengatakan klo tidak mungkin lagi menunggu normal, harus di sesar. Setelah itu dosis induksi kalau tidak salah diturunkan lagi, kemudian dikosongkan. Setelah tidak dalam pengaruh induksi dan air ketuban sudah habis total tapi kondisi bayi masih sehat, maka istri saya disuruh puasa sekitar 3 jam sebelum operasi sesar dan tidak boleh minum air. (disini saya jadi teringat manfaat berpuasa, yang bahkan minum air pun tidak boleh, supaya benar2 dibersihkan dulu seluruh pencernaan kita). Istri saya pun ikhlas harus menjalani sesar demi keselamatan buah hati kami juga.

Sekitar jam 3 istri bersiap2 masuk ruang operasi, memakai baju ganti, dan jilbab harus dilepas dan diganti penutup kepala khusus ruang operasi. Saya disuruh menunggu diluar dan dikasih HP internal rumah sakit, katanya nanti klo sudah selesai bakal ditelpon. Hapenya model flipflop, bukan smartphone, dan bahasa jepang jadi gak bisa saya maenin juga,hehe.. Akhirnya saya menunggu diruang tunggu sambil berdoa supaya baik baik saja. Kebetulan ada dokumen2 rumah sakit juga jadi saya bisa sambil baca2 sedikit belajar kanji. Shalat asar di ruang tunggu. Dan gak lama kemudian di telpon ama susternya dan dibilang selamat bayinya sudah lahir dengan sehat. Saya dipersilahkan masuk dan menunggu di ruang tunggu dalam dekat kamar menginap. Trus entah kenapa nunggunya agak lama, sekitar 30 menit kayaknya..

Tidak lama kemudian, sang suster datang membawa bayi kami di kotak plastik-kaca gitu, dibawahnya dilapisi alas dan handuk jadi seperti kasur. Kotaknya pun sedikit miring jadi bayinya tidurnya tidak datar tapi sedikit diatas kepalanya. Tanpa bantal. Kotak tersebut bawahnya tersambung dengan link bar setinggi sekitar 1 meter dan ada rodanya. Didalam kotak itu ada sensor untuk mendeteksi kadar O2 dan denyut jantung bayi dan terhubung wireless ke pusat monitor susternya. Dan tentunya di dalam kotak itu ada bayi kami yang super lucu, matanya merem, tangannya masih keriput, dan nangisnya itu kenceng banget. Waaaaaaaa… saya tidak bisa berkata apa apa, lucu banget, inilah anak kami.. mungil, fragile, nangisnya kenceng.. susternya bilang selamat ya, trus ngomong macem2, tapi saya gak inget dia ngomong apa, kayaknya saya gak merhatiin dech, haha.. saya ngomong iya iya aja.. saya cuma ingat, klo di sensor ini kadar oksigennya sampai dibawah 90 (% klo gak salah), hubungi susternya.. kemudian susternya pergi. Saya cuma bisa nyolek2 bayi saya, foto2, dan memandanginya.. belum berani menggendong karena belum diajarin (dan terlihat sangat fragile).

Setelah beberapa lama susternya datang lagi, kemudian bilang istri saya sudah bisa ditemui di kamar menginapnya, dan bayinya juga disuruh dibawa, kemudian dilakukan kangoroo care. Kangoro care itu bayi diletakkan diatas dada ibunya, kemudian sang bayi akan berusaha mencari letak susu ibunya. Proses mencarinya gak ribet kok, namanya juga bayi blom bisa gerak, intinya kepalanya diltakkan dekat puting susu ibunya dan kemudian sang bayi mulai menyusui. Alhamdulillah istri saya sehat dan ASInya keluar dengan lancar. Kami hanya bisa bersyukur melihat anak kami begitu sehat dan lahap minum susu. Selesai minum susu, saya diajarin susternya cara gendongnya, cara memegang kepalanya. Setelah bisa menggendong, akhirnya saya bisa gendong2 dan bawa kemana2.. setelah semua urusan beres dan susternya bilang sudah aman, sudah boleh istirahat dan bebas, maka saya gendong dan azankan bayi kami. Pelan pelan saja, gak mungkin juga teriak2 di kupingnya kan.. kemudian iqamat di telinga satu lagi. Setelah itu saya tidurkan di kotaknya lagi. Saya meyakini bahwa mengazankan bayi bukanlah hal yang wajib, hanya anjuran saja, jadi tidak perlu kita buru2 setelah lahir segera diazankan, kapan saja bisa.

Tak terasa, segala sesuatu berjalan begitu cepat. Hari ini pukul 15:55, Jum’at 3 Juni 2016, putri kami yang diberi nama Megumi Tsabisa A., berat 2,9 kg panjang 46 cm, lahir dengan selamat di Tama Byouin, Kawasaki. Saatnya membuka lembaran hidup baru, dengan berbagai tantangan dan harapan kedepannya.

IMG_4500

 

Panduan Merawat Bayi Pasca Melahirkan

Setelah melahirkan, pihak rumah sakit mengajarkan berbagai macam hal, mulai dari cara memandikan bayi, cara merawat, decoding the baby cry, dan berbagai hal lainnya terkait kesehatan bayi. Luar biasa memang pelayanan RS di jepang, mereka memang seolah2 menyiapkan kita supaya siap merawat bayi ketika keluar dari rumah sakit. Selain itu juga ada layanan kunjungan oleh kesehatan masyarakat dari kuyakusho, jadi mereka bisa datang ke rumah dan menjelaskan berbagai hal juga sambil melihat lingkungan tempat bayi tinggal. Untuk dokumen yang perlu diurus pasca melahirkan akan dijelaskan di part 3, di bagian ini saya jelaskan hal2 yang diajarkan oleh pihak rumah sakit.

Pertama diajarkan cara menggendong. Yang terpenting pertama adalah pegang bagian kepalanya yang bagian belakang telinga dan leher. Ini penting supaya kepala tidak terjungkal ketika diangkat. Kemudian bisa angkat bagian pantatnya, jadi pegangan ada dua yaitu kepala dan pantat. Setelah terbiasa, nanti cara gendongnya udah terserah kita aja, haha.. Menggendong ini penting karena bayi juga bosen tidur terus. Ketika bayi tumbuh besar, maka berat bayi akan bertambah dan cara menggendong bayi akan menjadi olah raga tersendiri buat kita.

Kedua diajarkan cara menyusui. Bayi yang baru lahir sampai 1-2 bulan sebaiknya dibuat teratur menyusuinya, walaupun nanti bayi akan punya keinginan sendiri kapan mau nyusu kapan mau tidur. Bayi harus disusui paling lama tiap 3 jam. Durasi sekali menyusui sekitar 10-20 menit. Setelah menyusui, bayi jangan langsung ditidurkan karena nanti bisa tersedak, jadi harus di burping terlebih dahulu. Cara burping ada beberapa macam, tapi yang paling baik adalah bayi digendong vertical ke dada dan pundak kita, kemudian kita sambil tepuk2 perlahan punggungnya. Setelah bayi sendawa, maka bayi sudah boleh ditidurkan. Kalua belum sendawa terus kita tidurkan, ada kemungkinan bayi mengeluarkan gumoh, bekas asi, seperti keluar iler banyak dari mulut tapi gak muntah. Dan biasanya bayi gak nyaman klo belum sendawa. Selain itu ada kemungkinan juga bayi cekukan/hiccup. Cara menghilangkannya gak diajarkan, Cuma katanya itu wajar wajar aja kok. Paling kita gendong2 sambil tepuk2 aja biar hilang, atau klo masih mau nyusu bisa dikasih lagi.

Ketiga diajarkan cara mengganti popok. Popok jepang biasanya bagian luarnya ada indicator garisnya. Klo garis yang awal warnanya kuning kena pipis/beol, maka garis itu berubah warna jadi hijau. Jadi kita bisa melihat apakah bayi pup atau enggak dari luar popoknya. Ketika mengganti, pegang kedua kakinya dan angkat keatas perut supaya pantatnya keliatan jelas dan bisa kita bersihkan. Semprotkan pantat bayi dengan air pakai spray, kemudian baru lap dengan tisu basah / wipes bayi yang tidak mengandung alcohol. Cara membersihkannya pertama di bagian kelamin dulu, trus jangan balik lagi tapi dioles dari atas ke bawah pantat. Jadi bagian kelamin tidak kotor kena pup.

Keempat diajarkan cara memandikan bayi. Bayi mandi menggunakan air hangat kira2 suhu 37-39 derajat. Jangan terlalu panas jangan juga dingin. Bak mandi digunakan untuk membershikan badan sampai kaki, dan gunakan bak/ember terpisah untuk membersihkan kepala. Pastikan ketika memandikan, salah satu tangan kita digunakan untuk selalu memegang kepala bagian belakang telinga dan leher, dan satu tangan lagi bisa digunakan untuk menggosok badan bayi. Ketika memandikan, bagian atas terlebih dahulu terus ke bawah, mulai dari kepala lalu terakhir pantat yg bagian paling kotor. Terakhir seluruh badan bayi di bilas menggunakan air yang di ember untuk kepala, karena air tersebut paling bersih dan tidak ada bekas kotoran badan.

Kelima dijelaskan tentang kesehatan bayi. Secara umum suhu badan normal bayi adalah 36.5 – 37.5 derajat celcius. Apabila melebihi 38 derajat, sebaiknya dibawa ke dokter. Mereka gak nyebut sich gimana klo dibawah 36, tapi kayaknya klo badan terlalu dingin juga gak bagus dan sebaiknya dibawa ke dokter. Selain itu apabila ada tanda tanda lain yang kurang sehat, muntah (bukan gumoh), yellow skin, atau tidak mau menyusui sebaiknya dibawa ke dokter. Apabila pup bayi berwarna hitam, merah, putih, diare, maka periksa juga ke dokter dan dibawa bekas popoknya itu. Tanda bayi sehat dan berkomunikasi adalah melalui tangisan. Apabila bayi menangis, maka kemungkinannya adalah: mau nyusu, pup atau kencing, bosan tidur terus minta digendong, ngantuk mau tidur, ruangan terlalu panas atau dingin, atau bisa juga bayi nangis karena pengen aja jadi klo gitu digendong, diayun2, diajak ngobrol, dll. Kalo bayi menangis terus padahal kita sudah mencoba semua kombinasi decoding tangisan bayi, maka sebaiknya konsultasikan ke dokter juga.

Keenam dijelaskan tentang pemeriksaan bayi setelah usia satu bulan (ikkagetsu kenshin一ヶ月検診). Di jepang ini bayi wajib diperiksa ke dokter setelah usia satu bulan. Pada intinya sich bayi ingin dilihat kesehatannya setelah tinggal satu bulan bersama kita, kebersihan bayinya, ada kelainan atau tidak, dll. Kemudian, bayi akan diberikan vitamin K2, jadi 1 jam sebelum periksa ke dokter bayi tidak boleh menyusui. Nanti biasanya bayi akan menangis karena kelaparan, tapi kita harus tega dan membiarkan menangis, justru ketika seperti itu bayi jadi lahap ketika dikasih vitamin K2. Selain itu, kalau bayi disusuin dalam rentang 1 jam sebelum dan 30 menit setelah dikasih vitamin, ada kemungkinan muntah jadi gak bagus.

Terakhir dijelaskan macam macam seperti vaksinasi, dll. Tapi nampaknya kita coba bahas di tulisan terpisah saja selanjutnya terkait merawat bayi. Oh iya, ketika datang kunjungan dari kuyakusho, kita juga dapat buku panduan macam macam, tapi yang tidak kalah penting adalah dikasih lagi kupon diskon belle maison 2000yen, buku panduan bermain dengan bayi, dan buku gambar anak.

 

Summary

Begitulah kurang lebih pengalaman kami menjelang dan ketika melahirkan. Tahap selanjutnya adalah merawat bayi sebaik mungkin dan periksa ke dokter apabila sakit. Seluruh biaya berobat untuk bayi adalah gratis asalkan kita urus iryosho, kartu kesehatan bayi, yang akan saya bahas di part 3. Untuk pengalaman awal kehamilan dapat dilihat di part 1.

In conclusion, delivery probably is an anxious, stressed, yet exciting experience for the family. Approaching the delivery, there are several things need to be prepared when you decided to deliver your baby in Japan:

  1. Apply for Delivery lumpsum from kuyakusho.
    Usually we don’t need to apply for this because we can automatically get this lumpsum if we already register our pregnancy and got the boshitecho from kuyakusho. At the time of admission on the hospital, they will give us a consent form to let the hospital retrieve the money directly from kuyakusho.
  1. Premama orientation is an explanation from the hospital to the soon-to-be parents about the delivery process and baby life. They also explained the detail about the sign of approaching delivery and how to strive on the delivery process.
  2. The sign of delivery can be divided into 5 indication:
    1. Contraction, with interval every 10 minutes, or in one hour there are 6 times or more contraction
    2. Water breaking or membrane rupture, the placental water is leaking without the feeling of urination. Even if you feel doubt whether the water is breaking or not, just contact the hospital and go there to confirm your condition.
    3. If you have a bleeding with a fresh blood discharge or large volume of blood is flowing. This condition is considered as irregular/abnormal condition.
    4. A very strong pain on the stomach or other part of your body.
    5. You have a dizziness, headache, vertigo, or eyes flickering which is very disturbing.
      If you have all the condition above, contact the hospital and go there directly. In addition, if there is no fetus movement for more than 1 hour, you need to go to the hospital as soon as possible.
  1. Things to bring to the hospital for the delivery mostly is the clothes for the mother while staying in the hospital, clothes for delivery, and waist nipper for the belly after the delivery. All the baby items are provided by the hospital. In addition, bring one clothes for the baby when go home from the hospital.
  2. About the delivery process, pray and enjoy it.
  3. After the delivery, the nurse will explain many things about the baby’s life. They will explain about how to carry your baby, about breastfeeding, change the diaper, baby’s bath, baby’s health, etc.

Next, the documents that need to be handle after the delivery will be explained in part 3. as for the experience in early stage of pregnancy had been described in part 1.

 

To be continue..

 


6 Comments

Pengalaman Melahirkan di Jepang (Part 1)

Pengalaman Melahirkan di Jepang, Part 1
Masa Awal Kehamilan

Pregnancy experiences in Japan, Part 1
Early stage of pregnancy
(english summary on the bottom part)

Walaupun yang mengalami proses kehamilan dan melahirkan adalah istri saya, tapi sedikit banyak saya terlibat langsung dalam segala urusannya karena kami tinggal di negeri rantau. Karena ada banyak yang bisa di share disini, jadi saya coba bagi tulisannya menjadi beberapa part yaitu part 1 untuk pengalaman di masa awal kehamilan (pra-melahirkan), part 2 tentang menjelang dan ketika melahirkan, part 3 tentang dokumen yang perlu diurus pasca melahirkan. Selain itu saya juga lampirkan terpisah kosa-kata yang sering dipakai di rumah sakit, cara menelpon rumah sakit (dan taxi), dan kosa kata yang katanya bakal keluar di ruang melahirkan (udah kayak ujian aja, wkwk). Pertimbangan memilih melahirkan di Jepang atau di Indonesia tidak saya bahas disini, mungkin dibahas di tulisan terpisah klo sempet.

*image credit to http://www.shutterstock.com

Melahirkan di Jepang katanya…

Karena ini adalah pengalaman pertama kami akan melahirkan di Jepang, tepatnya di Kawasaki (tetangganya Tokyo), ada banyak hal yang perlu dipersiapkan dan dipelajari supaya segala urusannya bisa berjalan dengan lancar tanpa ada masalah. Katanya hambatan terbesar menjalani proses melahirkan di Jepang adalah kendala bahasa. Karena saya bukanlah orang yang bahasa jepangnya lancar, Sensei saya di kelas volunteer bilang klo level saya mungkin sekitar N3, Jadi ada banyak kosa-kata, kanji, dan tata bahasa formal yang harus saya pelajari lagi supaya bisa menghadapi hambatan ini. Akhirnya dimulailah petualangan saya googling mencari berbagai informasi tentang melahirkan di Jepang.

Katanya (dulu) melahirkan di jepang gratis (total), biaya berobat disubsidi, setelah melahirkan akan mendapatkan banyak bantuan biaya dari pemerintah, dll. Iming2an lainnya adalah, buat kita mahasiswa, gak perlu khawatir melahirkan di Jepang insya Allah aman lah. Cukup beasiswanya. Kenyataannya.. (jreng jreng) Informasi itu tidak salah tapi tidaklah seindah imajinasi kita. Ibarat kata itu informasi yang manis manisnya aja, yang pahitnya jarang disampaikan. Selain itu tidak semua informasi yang berlaku pada masa dahulu, masih berlaku di masa kini. Mudah2an di tulisan ini saya bisa berbagi manis-pahit pengalaman kami, hehe..

 

Awal Kehamilan

Prosedur paling dasar mengecek awal kehamilan adalah menggunakan test-pack, atau bahasa jepangnya ninshin kensayaku (妊娠検査薬) atau kadang orang jepang nyebutnya kensayaku aja buat singkatnya. Ketika hasilnya sudah positif, maka kita baru ke rumah sakit buat cek ke dokter. Nah, untuk bisa mendapatkan subsidi biaya melahirkan, maka kita harus rumah sakit/klinik obgin (bahasa jepangnya sanfujinka, 産婦人科) terlebih dahulu untuk di cek secara langsung oleh dokter apakah kita hamil atau tidak. Kemudian setelah dokter menyatakan positif hamil, baru kita bisa ke kantor kecamatan (kuyakusho) atau kantor kabupaten/kota (shiyakusho) untuk melapor kehamilan serta akan diberikan penyuluhan singkat tentang melahirkan; Dan yang paling penting adalah dikasih buku boshitecho, gantungan kunci ibu hamil biar di kereta bisa dapet priority seat, serta kupon diskon/subsidi untuk biaya berobat rutin kehamilan. Boshitecho (lengkapnya 母子健康手帳) adalah buku catatan kesehatan ibu dan anak, buku wajib bagi ibu hamil disini yang harus selalu dibawa ketika berobat.

Sampai disini, artinya pertemuan pertama kali ke dokter di rumah sakit, kita tidak bisa mendapatkan diskon karena kita belum punya kupon diskon dari pemerintah kota, sehingga biaya pertama kali ke rumah sakit saya adalah sekitar 1 man (sekitar sejuta rupiah). Glek. Untung bawa kartu sakti cc yang bisa kita gunakan di kondisi terpaksa. Muncul pertanyaan, apakah bisa kita ke kuyakusho dulu minta boshitecho baru kemudian berobat pertama kali ke dokter? Sayangnya tidak bisa karena kuyakusho tidak menerima kesaksian/ bukti hamil dari testpack aja, tapi harus dokter yang menyatakan hamil baru kita bisa dikasih boshitecho, dkk. Sebenarnya pertanyaan tadi munculnya di kepala saya sich, jadi saya udah coba sendiri dan gagal, hehe..

 

Visit Hospital for the First Time

Mencari rumah sakit untuk berobat juga penting, parameternya macem2 seperti ketersediaan dokter perempuan dan berbahasa inggris, jarak ke sana dari rumah, biaya berobatnya berapa, kenyamanan, dll. Ketika diskusi dengan orang kuyakusho, saya tanya kira2 rumah sakit mana yang bisa bahasa inggris, mereka juga gak yakin karena dokter kan di rotasi, jadi bisa jadi dulu disana ada sekarang malah gak ada. Tapi mereka merekomandasikan 2 rumah sakit pemerintah yaitu Tama byouin dan Kawasaki byouin. Klo denger2 cerita orang Indonesia di daerah kami, ada Showa byouin yang rumah sakitnya universitas kampus swasta, jadi ada terus dokter perempuan yang bisa English disana. Ada juga rumah sakit di azamino yang temen saya bilang dulu ada dokter bisa English, tapi sayangnya sekitar 2 tahun lalu temen kesana udah gak ada.

Kami akhirnya memutuskan memilih Tama byouin yang paling dekat dengan rumah kami untuk pertemuan dokter pertama kali, sambil mengecek apakah ada dokter yang bisa English, dan melihat suasana lainnya. Jika ternyata tidak nyaman, mungkin kami akan pindah ke Showa byouin. Stalking dulu di websitenya, nyari hari apa yang kira2 dokternya cewe, akhirnya kita memutuskan kesana hari rabu pagi. Pertemuan pertama kali ke dokter ada istilahnya yaitu shoshin (初診), dan dokternya khusus gitu jadwalnya jadi gak bisa kita asal dateng jamnya. Klo untuk pemeriksaan rutin selanjutnya baru bisa booking hari dan jamnya sesuai dengan jadwal kita.

Peta Ruangan Tama Byouin

Pertama kali dateng, kami langsung ke pusat informasi. Kemudian tanya tanya, mau berobat ke sanfujinka, hajimete, gimana. Trus ditanyain macem macem kayak udah cek kensayaku belom, nanti mau melahirkan di rumah sakit ini atau enggak, isi form, bikin kartu berobat, dll. Trus giliran saya yg nanya lagi, dokternya bisa bahasa inggris gak? Trus orang receptionist entah ngomong apa panjang x lebar x tinggi dalam bahasa jepang, saya cuma menangkap, dokternya khawatir klo dalam bahasa inggris ada hal2 yang tidak tersampaikan secara maksimal, sebaiknya klo kesini bawa temen yang kira2 bisa bahasa jepang. hoo gitu.. ya saya pernah denger klo orang jepang itu takut ngomong English karena klo ada apa2, misalnya klo sampe ada kasus apa gitu, mereka bisa2 dimintai pertanggung jawaban atas cara komunikasinya. Klo salah2, bisa jadi mereka yang disalahkan, karena itulah sangat wajar klo dokter takut ngomong English. Di satu sisi, minimal saya cuma mau pertemuan pertama aja karena butuh pernyataan dokter bahwa istri saya hamil, jadi biar saya bisa minta boshitecho ke kuyakusho dan selanjutnya klo ke rumah sakit udah diskon. Akhirnya di titik itu saya bilang, “yaudah gpp saya aja yang ngomong bahasa jepang, kira2 bahasa jepang saya segini bisa dimengerti kan ya sama dokternya..”. Receptionist terlihat agak ragu, hahaha.. trus dia ngomong apa saya kurang ngerti, dan akhirnya tetep aja saya daftar dan ketemuan ama dokternya.

Di balik layar, nampaknya mereka kebakaran jenggot, karena bakal dikunjungi ama pasien yang bahasa jepangnya berantakan kayak saya, dokter pun gak berani ngomong English, akankah.. (sound track silet). Sambil saya menunggu di ruang tunggu, tak berapa lama datanglah seorang petugas rumah sakit divisi social worker bernama Saito, dia bisa ngomong bahasa inggris dengan lancar dan ngobrol ke saya sambil memperkenalkan diri. Dia kemudian bilang klo dari rumah sakit ini bisa menyediakan interpreter untuk berkomunikasi dengan dokter. Waah tentu saja kami takjub dan berterima kasih dong.. tapi tak lupa saya tanya, apakah saya harus bayar untuk jasa interpreter itu? Kemudian dia bilang, tidak perlu bayar, biaya interpreter akan ditanggung oleh rumah sakit. Dia cuma berpesan klo bisa sich jadwalnya jangan cancel tiba2 aja karena interpreter kan dibooking dan (mungkin) klo di cancel tetep harus bayar. Waah, mengetahui hal ini, tentu saya bilang saya mau jasa interpreter itu untuk pertemuan selanjutnya dan berterima kasih karena telah dibantu oleh pihak rumah sakit. Hanya saja pada pertemuan pertama belum ada interpreter jadi akan dicarikan suster yang bisa bahasa inggris khusus untuk hari itu. (dalam hati saya mikir, kenapa gak dia aja sich untuk yang pertama kali, tapi mungkin gak boleh karena yang masuk ke ruang dokter cuma boleh pasien, dokter, suster, saya keluarga, dan mungkin interpreter resmi).

Akhirnya kami dipanggil masuk dan masuklah kami ke ruang dokter. Sreeeg (bunyi pintu digeser), kemudian disambutlah kami dengan ohayou gozaimasu oleh dokter dan suster. Saya jawab ohayou gozaimasu. Masih deg2an karena takut keluar kata2 yang tidak dimengerti,haha.. Susternya pun sudah ada di dalam juga. Karena dokternya udah tau klo kami orang asing, dia berusaha ngomong bahasa jepang dengan pelan2 dan menggunakan kosakata yang gampang2, jadi saya masih bisa mengikuti flownya. Saya bilang klo ini pertama kali, udah cek kensayaku dan positif. Dokter sempet nanya udah punya boshitecho belum, terus saya bilang belum punya karena kata orang kuyakusho kami harus ke dokter dulu untuk cek baru bisa minta boshitecho. Dokter juga nanya ada keluhan apa aja, ya paling jawab yg standar2 aja.. trus disuruh masuk ke ruang di samping untuk dilakukan pemeriksaan transvaginal, naishin (内診). Setelah selesai dokternya bilang omedetou, selamat karena sudah positif hamil. Alhamdulillah tidak ada masalah ktnya.

Dokter bilang setelah ini silahkan ke kuyakusho dan minta boshitecho. Boshitecho harus dibawa setiap kali ketemu dengan dokter. Nah disitu saya ngomong ke dokternya, boleh saya minta ninshin shoumeisho? Karena kemarin saya sudah ke kuyakusho dan belum boleh minta boshitecho katanya, katanya saya harus ke dokter dulu dan minta pernyataan dari dokter. Trus disitu dokternya bingung, susternya juga bingung, dia bilang, biasanya gak perlu ninshin shoumeisho bisa kok minta boshitecho. Hmm, dodolnya, disini gw udah bahasa jepang pas-pasan malah debat ama dokternya, hahaha.. trus saya coba ubah kalimat saya, bolehkan saya minta ninshin shoumeisho? Trus dokternya bilang, klo usia kehamilan kurang dari 10 (atau 12) minggu, belum bisa dikeluarkan surat ninshin shoumeisho. Trus saya bingung kan, dan susternya dengan sangat yakin bilang, bisa kok minta boshitecho tanpa ninshin shoumeisho. Nanti klo gak bisa, kamu telpon rumah sakit ini aja. Kemudian saya terpaksa nurut dan saya jadi sedikit merenung dan mempertanyakan kembali referensi yang sudah saya baca. Saya yakin sekali banyak referensi yang menyatakan kita perlu minta ninshin shoumeisho kemudian surat tersebut dibawa dan ditunjukan ke kuyakusho/ shiyakusho kemudian kita bisa mendapatkan boshitecho. Yasudah saya gak jadi dapet dech. Dan setelah selesai pemeriksaan, dikasitau klo bisa 2 minggu lagi periksa lagi ke dokter, ditanyain mau hari apa jam brapa, biar bikin surat bookingnya. Selesai, arigatou gozaimasu, keluar ruangan, buaah lega.. akhirnya terlewati juga ujian pertama, hahaha..

Diluar disuruh nunggu sebentar, kemudian susternya keluar lagi dan ngasih kertas booking untuk pertemuan selanjutnya (yoyakuhyou 予約表) dan kertas yang harus dibawa ke kasir dibagian luar. Sebelum bayar di kasir, Saito san bilang nanti disuruh mampir ke bagian social worker temuin dia buat booking interpreter pertemuan selanjutnya. Trus saya kesana dan kasih liat yoyakuhyou, trus dia bilang akan disiapkan interpreter di tanggal dan jam tersebut. Kemudian saya bayar ke kasir dan ya tadi itu, bayarnya 1 man (sekitar sejuta), hahaha.. (nyesek). Pulanglah kami ke rumah dengan perasaan bahagia karena telah selesai melewati pertemuan-yg-sepertinya-bakal-menyeramkan-tapi-ternyata-baik-baik-saja, dan klo saya pribadi sich merasa bahasa jepang saya mengalami level up, hehe..

 

Ke Kantor Kecamatan / Kuyakusho

Setelah ke dokter dan dinyatakan positif hamil, tapi gagal bawa ninshin shoumeisho, kami datang lagi ke kuyakusho di miyamae-ku (lantai 3) dan bilang mau ke bagian ibu hamil (ninshin) minta boshitecho. Trus diantarlah ke loketnya (duh lupa nomor berapa, 12 atau 13 gitu). Trus disana saya bilang bahwa kami sudah ke rumah sakit dan dokter sudah menyatakan hamil. Saya mau minta boshitecho, dll. Trus petugasnya nanya, sudah cek ke dokter dimana, trus saya bilang di tama byouin, tapi saya tidak dapat ninshin shoumeisho karena katanya belum bisa dikeluarkan. Supaya sedikit meyakinkan, saya tunjukan bon2 dari rumah sakit. Ternyata mereka percaya begitu saja dan bilang tidak perlu ninshin shoumeisho. Alhamdulilllah, dengan demikian saya sudah tidak butuh lagi yg namanya ninshin shoumeisho yg klo menurut banyak referensi di google dibutuhkan, hehehe..

Disana kami seperti dikasih sedikit penyuluhan gitu kayak, pekerjaan istri dan suami apa, kemudian sudah siap belum punya anak, nanti kalau melahirkan biayanya mahal lho, sudah siap belum, biaya berobat rutin, terus biaya2 lain ketika sudah melahirkan (kayaknya dia fokus ke biaya gara2 gw mahasiswa kali yak, jadi khawatir gitu). Dia nanya, kamu punya biaya untuk melahirkan? Kira-kira 500rb yen lho (sekitar 50jt), terus saya bilang wah mahal banget, ya gak punya, haha.. ya harus nabung dari sekarang, dan kalo memang nanti ternyata butuh besar, saya bisa cari pinjaman, saya punya banyak teman kok, daijoubu desu, wkwk.. saya merasa dia lagi ngetes kesiapan mental saya dech.. nothing to lose. Kemudian dia baru ngaku dech klo pemerintah jepang bisa ngasih bantuan subsidi untuk biaya berobat rutin, bantuan biaya melahirkan sebesar 420.000 Yen, dan nanti juga ada biaya support untuk anak yang baru lahir setiap bulan. Waah.. sugoi desune.. itu semua gimana ngurusnya saya tanya, dan barulah dia menjelaskan macam2.. Lumayan karena akhirnya dapat penjelasan langsung dari sumber primer, melengkapi sumber2 googling saya, hehe..

Selesai penjelasan tersebut, saya dikasih boshitecho dalam bahasa jepang dan bahasa Indonesia, buku kupon diskon berobat, dan gantungan kunci untuk ibu hamil, (dan kupon diskon belanja di belle maison 2000yen) dan banyak dokumen2 lainnya dalam bahasa jepang yang ujung2nya tidak saya baca sama sekali, haha.. 3 (eh 4) itu adalah benda paling penting yang perlu kita minta di awal kehamilan, adapun subsidi biaya melahirkan, subsidi lainnya, semua diurus nanti ketika sudah menjelang/setelah melahirkan.

 

Pemeriksaan Rutin Kedua, dan Selanjutnya

Pemeriksaan rutin (kenshin/shinsatsu: 検診/診察) selanjutnya prosesnya kurang lebih sama. Ada tes urin, tes darah di minggu2 tertentu, USG, dan tes tes lainnya). Untuk di Tama byouin urutannya:

  1. Masukin kartu berobat (shinsatsuken 診察券) ke mesin untuk di print nomor antrian (di samping loket nomor 1).
  2. Ke bagian urin test dan/atau blood test di sebelah kanan pintu gerbang (loket no 13). Masukkan shinsatsuken ke mesin, trus nanti keluar cup buat urin. Klo test urin biasanya tinggal kencing aja di cup terus cupnya dikasih ke jendela ruang pemeriksaan dari dalam toilet. Klo blood test nanti masuk ke ruangannya untuk diambil darah. Biasanya sebelum blood test gak boleh makan 1-2 jam sebelumnya.
  3. Ke bagian social worker (loket 5 atau 7) untuk ketemuan ama interpreter. (nomor 2 ama 3 bisa dituker deng urutannya)
  4. Ke bagian receptionistnya obgin (sanfujinka 産婦人科) di ujung kiri rumah sakit klo dari pintu gerbang (東外来 loket no 12). Disana cuma nunjukin nomor antrian aja, nanti ama dia disuruh timbang badan ama tekanan darah di bagian dalamnya sanfujinka.
  5. Masuk ke ruang tunggu dalam sanfujinka untuk timbang berat badan dan tekanan darah. Semua dilakukan sendiri, mesinnya gampang kok cara pakenya. Hasilnya di print di kertas kecil kemudian dimasukkan ke dalam map biru yg disediakan di atas meja sana. Masukkan juga boshitecho kita.
  6. Serahkan map biru tsb beserta isinya ke receptionist (uketsuke 受付) sanfujinka kemudian tunggu di ruang tunggu luar sampai dipanggil nomor kita.
  7. Setelah nomor kita muncul, masuk ke ruang tunggu di dalam, nunggu lagi sampe dipanggil nama. Pay attention karena mereka manggil dalam bahasa jepang. (xxx san, yyy ban shitsu ni go hairi kudasai; xxx nama kita, yyy nomor ruangan dokternya)
  8. Pertemuan dengan dokter. Serahkan kartu berobat buat di scan, ditanyain kabar, ada keluhan apa, masuk ke ruangan samping buat periksa, USG, dikasitau ini bagian kepala, mata, dll, dikasitau kita week berapa, berat dan ukuran bayi berapa. Trus dijelasin klo ada apa2, sama klo ada lagi yg mau dikonsultasikan, trus janjian ketemuan selanjutnya lagi kapan, selesai.
  9. Keluar sebentar dari ruang dokter, tunggu suster ngasih bon, dokumen untuk ketemuan selanjutnya (yoyakuhyou), dan boshitecho, dan keluar dari bagian obgin menuju kasir.
  10. Sebelum ke kasir, saya sich mengantar interpreter ke bagian social worker dulu untuk dikembalikan, trus ngomong terima kasih, trus janjian lagi ama social worker untuk booking interpreter pada pertemuan selanjutnya.
  11. Ke kasir bayar (loket nomor 4). Tunjukan buku kupon kita, isi identitas di kupon. Biasanya ditanyain ama mbak2nya ada chushajo (mobil/motor parkir) ga? Bilang aja enggak, haha. Abis itu bayar melalui mesin di samping kasir. Masukkan shinsatsuken ke mesin, trus nanti keluar biaya yg perlu dibayar. Masukkan uang atau bayar pakai CC. terus ada pilihan untuk ngeprint bon atau tidak, saran saya: print bonnya, simpan.
  12. Selesai, sebelum pulang bisa numpang shalat dulu di RSnya. Balik lagi ke ruangan sanfujinka, bilang ke mbak2 receptionist: oinori shitaidesu, nanti dikasi tau shalat di ruang mana, bisa di ruang menyusui atau di ruang suster, tergantung dimana yang lagi kosong.

Khusus di pertemuan kedua (atau ketiga, lupa), kita juga akan melakukan booking untuk melahirkan. Kita akan ditanya mau melahirkan dimana? Klo saya kemarin bilang aja mau melahirkan di Tama Byouin, jadi kita booking mau melahirkan disana dari jauh jauh hari. Sebenarnya saat itu saya dan istri masih menimbang-nimbang mau lahiran di Jepang atau Indonesia, tapi yang penting booking dulu rumah sakit karena klo penuh nanti kita gak bisa lahiran disana, harus cari rumah sakit lain. Booking juga gratis kok, tinggal masukin data aja, klo memang akhirnya kita memutuskan lahiran di Indonesia, kan kita tinggal bilang cancel aja ke RSnya. Yang jelas, klo mau lahiran di Indonesia, sudah harus diputuskan di bulan ke 7 karena lebih dari itu udah beresiko untuk naik pesawat terbang.

Di pertemuan kedua, karena waktu pertemuan pertama kita belum dapet boshitecho dan belum punya kupon diskon, ternyata ama orang kasirnya ditanyain bawa bon yang pertama kemarin gak? Trus saya bilang bawa, trus ama dia diambil salah satu kupon diskon untuk mengganti biaya yang keluar di pertemuan pertama. Waw, hebat, uang yang keluar 1 man diawal bisa diganti sebagian, hehehe, Alhamdulillah..

 

Booking Untuk Melahirkan

Proses booking disini sebenarnya cukup simple, cukup ke bagian loket untuk pendaftaran booking melahirkan, trus isi data, dan selesai. Klo di Tama byouin, receptionist buat booking ini di corner yang sama dengan social worker. Ketika kesini saya ditemenin ama interpreter supaya tidak salah nangkap, jadi sebelum interpreter selesai, kita ajak ke bagian booking dlu supaya kita tidak salah2 waktu booking. Apa aja sich yang diomongin disini:

  • Tanggal perkiraan melahirkan (bunben yoteibi 分娩予定日)
  • Isi biodata istri, dan guarantor (suami) klo gak salah
  • Dikasih buku panduan menginap di rumah sakit dan beberapa form yang perlu diisi dan dikumpulkan ketika kita telah menginap di rumah sakit.
  • Perkiraan biaya melahirkan. Untuk melahirkan normal perkiraannya 450-500 ribu yen. Untuk melahirkan sesar sekitar 350-450 ribu yen. Lho kok bisa lebih murah? Ya, karena di Jepang caesarian section itu adalah kondisi terpaksa ketika tidak bisa melahirkan normal, setelah mengalami pertimbangan matang dari dokter. Jadi sesar dianggap penyakit dan berhak mendaparkan asuransi lebih besar dibandingkan melahirkan normal. Dan (sepertinya) kita tidak bisa minta sesar diawal klo tidak ada alasan khusus.
  • Ruangan rumah sakit yang mau dibooking. Ruang biasa isi 4 bed (pasien) sekamar biayanya gratis, klo isi 2 bed perharinya 4000 yen, klo yg isi sendiri (VIP) ada yang 17000 yen ada juga yang 24000 yen (ini namanya LDR).

Untuk panduan lebih detail mengenai panduan menginap di rumah sakit akan di bahas di part 2, karena nanti akan dikasih lagi buku panduan menjelang melahirkan. Selain itu juga, proses melahirkan di Jepang dilakukan di 2 ruang berbeda yaitu Labor Room dan Delivery Room. Labor room adalah ruangan kita mengalami kontraksi sampai bukaan maksimal, sebelum memasuki tahap mengeluarkan bayi. Delivery room adalah ruangan untuk proses mengeluarkan bayi. Saya akan bahas lebih detail nanti di part 2, tapi buat gambaran, kalau kita ingin proses delivery ditemani suami (tachiai bunben 立ち会い分娩) Maka kita harus booking di ruang delivery khusus dan ruang menginap VIP khusus (ruang LDR) yang biayanya cukup mahal, dan mungkin sekalian di tahap ini juga proses bookingnya. Saya baru menyadari ini di akhir2 dan udah gak bisa lagi karena untuk ruangan biasa, suami tidak bisa menemani ke dalam ruangan delivery, dan hanya bisa sampai di ruangan Labor aja. Walaupun begitu, Delivery room itu ruangannya cuma ditutup sama gorden kok, bukan ama pintu, jadi kita disuruh nunggu diluar dan tetap bisa mendengar proses melahirkannya (atau bahkan ngintip2 karena cuma gorden), tapi yang jelas gak bisa berdiri di samping bednya. Hufft kecewa..

 

Perbandingan Rumah Sakit

Bagian ini khusus perbandingan biaya rumah sakit di daerah den-en-toshi line, karena sempet nanya2 juga ama temen2 yg lagi hamil juga jadi sepertinya menarik klo dibikin perbandingan.

temp RS

Klo lihat tabel ini, nampaknya showa byouin menang di banyak aspek. Total kupon diskon mungkin sedikit dibawah miyamaeku tapi dapat plus voucher periksa gigi menjadi nilai tambah. Mungkin yang menjadi sedikit pertanyaan adalah mengapa biaya sesar di showa lebih mahal daripada di Tama byouin, saya sendiri masih kurang informasinya. Adapun rumah sakit di Yamato-shi biaya melahirkannya lebih mahal karena teman saya ketika melahirkan saat liburan golden week, ditambah bayinya yang lahir dengan berat badan sedikit jumbo, mungkin jadi ada tambahan biaya totalnya. Untuk rumah sakit Tokyo, nanti klo saya udah dapet data lengkapnya lagi saya lengkapi, hehe..

 

Summary

Kurang lebih itu pengalaman kami di awal kehamilan. Pertemuan selanjutnya kurang lebih mirip2 pengalamannya, jadi tidak perlu dijabarkan lagi. Kemudian klo di jepang, di trimester pertama dan ketiga, kita kontrol rutin ke dokter setiap 2 minggu sekali, adapun trimester kedua sekitar sebulan sekali. Total ketemuan ama dokter mungkin sekitar 14 kali, sejumlah kupon diskon, hehe..

In conclusion, what you need to do in early stage of pregnancy:

  1. Check using the testpack, you can purchase it in any pharmacy shops.
  2. Meet the doctor, whether in hospital or clinic. Confirm (at least verbally) that you are positive pregnant.
  3. Go to city or ward office (Kuyakusho/shiyakusho) to apply that you are pregnant. You will get mother and baby health book (Boshitecho), discount coupon for routine medical examination, and other guidance books.
  4. Book the hospital for the baby delivery. We need to book as earlier as possible.
  5. Take routine medical examination until delivery.

Next, for the pre-mama orientation, preparation toward delivery, delivery cost subsidy from Japan government, and delivery itself will be described in part 2. As for the documents that need to be manage after delivery will be explained in part 3.

To be continue..


Leave a comment

Kebun

وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِن لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. (Al  Baqarah 265)


4 Comments

Cookie Clicker

Capture
Beberapa hari yg lalu dikenalkan ama game sederhana ama tmen lab, namanya cookie clicker. Tmen gw yg satu ini emg udh keseringan nawarin game online ke gw tapi banyak yg gak gw maenin, mulai dari mahjong, shogi, igo, othello, kartu2 aneh, ampe kemaren cookie clicker.
Semula gw ngeliat biasa aja, mungkin mirip tamagochi, pas gw coba maenin, ternyata gw ketagihan, wkwk..
Hakikat gamenya sungguh simple: memiliki cookie sebanyak banyaknya agar kita bahagia.
Cara mendapatkan cookie:
Click gambar cookie sekali maka cookie kita +1.
Nah yg menariknya adalah, setelah kita punya banyak cookie, kita bisa jual itu cookie kemudian upgrade atau membangun sesuatu kayak bikin farm cookie, beli grandma buat masakin cookie, bangun pabrik cookie, cari tambang cookie, dll, intinya bangun sesuatu agar
Produksi cookie kita persecond meningkat, wkwk..
Saat ini gw udh punya bertriliun triliun cookie dan udh bangun banyak banhet pabrik. Produksi cookie gw masih jutaan persecond sich tapi udh lumayan menghibur.. Malem sebelum pulang lab, gw klik2 cookie dulu bentar, beli pabrik, roket, atau macem macem untuk meningkatkan produksi, trus pulang tinggalin, terus besok pagi cookie kita udh bertriliun triliun, wkwkwk..
Bahagia banget maen game ini, simple, gak pusing, tapi rasanya kita seperti punya banyak cookie jadi bahagia, wkwkwk..
Entahlah, jangan2 ini kayak neko atsume, setelah beberapa minggu/bulan akhirnya mulai bosan, wkwk.. Mayan lah penghibur sedikit..


Leave a comment

Workshop Zakat

#edisinotulensi

Workshop Zakat

(Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin M.Sc.*)

*Ketua umum Baznas, Guru besar IPB, Dewan Syariah Nasional MUI

 

Secara empirik telah terbukti bahwa pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, zakat tidak hanya mengurangi kemiskinan tapi juga dapat Menghilangkan kemiskinan dalam waktu 22 bulan. Zakat harus menjadi lifestyle hidup kita.

Pada tahun 2011, potensi zakat di Indonesia sebesar 217,3 triliun pertahun, kira-kira ½ dari APBN. Adapun yang sudah bisa dikumpulkan baru 4-5 triliun pertahun. Jumlah orang miskin di Indonesia adalah 3.2 juta orang (belum termasuk yang diambang kemiskinan), dimana yang sudah diberi zakat baru 1.9 juta orang. Masih besar potensi zakat yang belum terealisasikan di Indonesia.

Perbedaan zakat dan infaq: zakat tidak boleh diberikan kepada orang yang menjadi tanggung jawab kita secara langsung. Suami kepada istri, istri kepada suami, orangtua kepada anak, dst. Zakat harus melalui lembaga amil zakat, tapi kalau infaq diperbolehkan.

Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan”. Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (Al Baqarah : 215)

ZIS walaupun ada perbedaan status dan detailnya tapi tujuannya sama. Tujuannya adalah:

  1. Meningkatkan kesejahteraan.

Zakat tidak hanya sekedar memberi makan tetapi juga meningkatkan kesejahteraan, baik di bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Apabila dikelola dengan baik, maka akan terjadi peningkatan kesejahteraan kepada masyarakat.

 

  1. Terkait etos kerja.

Orang yang berzakat adalah orang yang memiliki etos kerja tinggi, bukan orang malas. Tidak mungkin mereka bisa berzakat kalau etos kerjanya tidak baik. Salah satu cara meningkatkan etos kerja karyawan adalah dengan mewajibkan berzakat. Sudah ada 48 perusahaan di Indonesia yg membuktikan hal ini. Lihat Q.S. Al Mu’minun 1-4.

 

  1. Membangun etika kerja.

Orang yang menunaikan ZIS, mereka adalah orang orang yang yakin bahwa mencari rezeki harus halal. Karena zakat itu bukan membersihkan apa yang haram, tapi harta tersebut harus bersih dan didapat dengan cara yang baik dan tidak boleh ada hak orang lain disana. “Allah swt tidak akan menerima sedekah (zakat) dari harta yang didapat secara tidah sah, menipu, haram (ghulul).” (H.R.Muslim). Gerakan zakat adalah gerakan memberantas korupsi.

 

  1. Zakat mengaktualisasikan potensi ummat.

Bazarnas pernah membuat 5 rumah sakit gratis, bahkan terkenal dengan sebutan “Rumah sakit tanpa kasir”. Didirikan jauh sebelum ada BPJS. Pernah ada ide, tidak perlu gratis tapi subsidi silang saja, namun ide tersebut ditolak karena dikhawatirkan akan adanya pelayanan kesehatan yang tidak adil. Jadinya di rumah sakit tersebut hanya untuk orang yg tidak mampu saja yang benar-benar boleh kesana.

 

  1. Zakat membangun kecerdasan intelektual, emosional.

Kisah suami istri pembantu yang mempunyai penghasilan perbulan Rp 600.000 mempunyai 5 orang anak, dan kelima anaknya sekarang kuliah di universitas negeri dengan beasiswa. Hal ini karena sejak kecil mereka selalu juara kelas/umum. Selain itu keluarga tersebut selalu mengajarkan bahwa infaq itu wajib walaupun penghasilan pas-pasan.

 

  1. Zakat menyebarkan ketenangan.

Tenang tidak berarti tidak punya masalah. Lihatlah Q.S. At-Taubah 103. Ini juga point pentingnya zakat melalui badan amil zakat, yang mana amil zakat berkewajiban untuk mendoakan muzakki agar memberikan ketenangan.

 

  1. Zakat menyebabkan harta kita berkembang.

Pada Q.S. Ar-Rum 39, ayat ini memberikan komparasi riba dan zakat. Yang memberikan komparasi bukanlah seorang ekonom atau professor, tapi dari Allah langsung.

 

  1. Zakat sebagai suatu kehubungan.

Apabila kita punya penghasilan, maka keluarkan yang pertama adalah zakat 2.5%, selanjutnya dibelanjakan untuk kebutuhan, baru dikeluarkan infaqnya. Ini dapat dilihat pada Q.S. Al-Baqarah 219.

 

Dalil pengumpulan zakat:

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (At-Taubah: 103)

 

Dalil Penyaluran zakat:

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 60)

 

Pada prinsipnya, semua penghasilan (baik gaji maupun beasiswa) wajib dikeluarkan zakatnya (jika mencapai nisab)/ infaq shadaqahnya (jika belum mencapai nisab). Diberikannya kepada siapa? Boleh diberikan kepada (mustahiq) masyarakat miskin/mualaf jepang, boleh juga ke Indonesia. Prinsip utamanya, zakat itu diambil dari orang kaya setempat untuk dibagikan kepada fakir miskin setempat. Jika berlebih baru didistribusikan ke wilayah tetangga dan sekitarnya.

Wallahu’alam bisshawab.

 

Sesi tanya jawab:

  1. T: Apakah harta yang sudah dikeluarkan zakat/infaqnya, ketika sisanya bisa ditabung, maka tabungan tadi terkena sebagai objek zakat?
    J: Yang pertama adalah zakat profesi dan yang kedua adalah zakat mal. harta tabungan nisabnya sama dengan emas perak. Jika belum mencapai nisab maka tidak wajib dikeluarkan zakatnya.

    T: Zakat fitrah jika disalurkan di Indonesia, menggunakan standar beras Indonesia atau jepang?
    J: Standar yang kita makan, maka standar beras jepang.

  2. T: Mengenai lembaga zakat, apakah bazasnas mencari mustahiq atau mustahiq daftar ke lembaga zakat?
    J: tugas utama ada 2: Baznas dan Laz. Pengumpulan (9:103) dan Penyaluran (9:60). Mencari mustahiq: sistem relawan, bikin program (sekolah, RS gratis, dll).
  1. T: Boleh tidak uang yang dikirim ke Indonesia di niatkan sebagai zakat profesi?
    J: kalo kepada keluarga, maka infaq. Klo mau zakat, maka berikan kepada orang paling miskin di daerah sekitar kita terlepas dari orang tersebut keluarga atau bukan.

    T: Beasiswa dianggap penghasilan atau bukan?
    J: Beasiswa itu lebih ke infaq.

  1. T: zakat fitrah boleh uang atau harus beras?
    J: standarnya makanan pokok, tapi boleh dibayar berupa uang (mazhab hanafi membolehkan).

    T: Gaji mencapai nisab perbulan, bayarnya menunggu haul atau boleh dicicil perbulan?
    J: Kalau sudah mencapai dan mau dibayar perbulan sangat diperbolehkan. Tapi jika kita berpendapat harus menunggu haul (satu tahun dulu), maka dipersilahkan. Prioritas dana zakat adalah untuk fakir miskin.

    T: Uang zakat untuk program dakwah bolehkah?
    J: Boleh untuk dakwah tapi hanya sebagian saja. Dakwah biasanya diambil dari dana infaq. Contoh kasus: dana zakat perusahaan di Saudi bisa mencapai 1000 T. Malaysia: zakat mengurangi pajak. Angka kemiskinan di Malaysia: 20.000 orang (sangat kecil dibanding Indonesia).

    T: bagaimana mengelola dana riba yang tidak ingin kita pakai (bunga bank, dll)?
    J: disalurkan ke fasilitas umum seperti wc umum, jalanan, jembatan, dll. Fasilitas yang diinjak2 lah, jangan ke pendidikan, masjid, dll.

  1. T: Apabila kita punya tabungan haji 20jt, kemudian dipergunakan untuk usaha dan keuntungannya dikumpulkan terus ke tabungan tadi hingga mencapai 70jt. Apakah 20jt yg pertama terkena zakat juga walaupun sebenarnya tidak masuk ke dalam modal usaha? Karena ada perbedaan antara harta tabungan/simpanan dengan harta usaha.
    J: Kalau pada akhirnya uang 20jt tersebut digunakan untuk usaha, maka dia masuk ke dalam objek zakat usaha. Apabila di akhir tahun setelah dikurangi kebutuhan/biaya2 perusahaan dll, terdapat keuntungan 70jt, maka wajib dikeluarkan zakat usahanya 2.5%. bukan zakat tabungan lagi.

    T: Nisab pertanian dibayar per-panen atau pertahun?
    J: Pertanian (dan tanaman2 lain juga) dikeluarkan pada saat panen. Tidak semua harta dikeluarkan pada saat haul. Seperti itulah juga yang kita keluarkan dari zakat penghasilan.

  1. T: Setelah kita mempelajari ilmu tentang zakat ini, kemudian kita mengetahui bahwa apa yang kita lakukan selama ini salah, sebaiknya bagaimana?
    J: kalau memang salah dan susah menghitungnya maka tidak apa2, yang telah terjadi terjadilah.. Kalo bisa dihitung maka keluarkan infaqnya.

    T: Apa kriteria untuk amil? Apakah harus orang yang berada di lembaga resmi?
    J: Amil itu harus orang yang memang telah mendapat pengakuan khusus terhadap keahliannya. Dalam fatwa MUI, amil zakat ada dua: yang ditunjuk oleh pemerintah melalui proses seleksi, atau dipilih oleh masyarakat tetapi diakui oleh pemerintah. Amil zakat harus pro/pekerja, jangan muncul tanggal 20 ramadhan dan tanggal 1 syawal udah hilang (kecuali terpaksa). Amil berhak menerima, tapi itu setelah dikurangi operasional juga seperti transport, sistem IT, dll. Mustahik juga tidak boleh dobel mengambil harta di dua lembaga berbeda. Panitia dan Amil zakat berbeda, dan seringkali terjadi panitia malah dapat bagian lebih besar daripada amil atau bahkan fakir miskin itu sendiri. tidak bisa misalnya amil dan panitia hanya 3 orang kemudian fakir miskin 30 orang, kemudian harta zakat dibagi 2.

    T: Mengenai zakat perdagangan/perniagaan, apakah yg dihitung zakatnya dari keuntungannya saja atau semuanya termasuk stok2 barang yang kita punya? Jika dihitung stok juga, apakah nilainya dihitung berdasarkan berapa harga kita mendapatkannya atau berdasarkan harga jualnya?
    J: Jadi menurut fikihnya, hartanya adalah semua yang diperjualbelikan. Yang sudah laku maupun yang masih stok dihitung, tapi tempat tokonya, mobil transportnya tidak dihitung. Jadi yang dihitung adalah yang direncanakan untuk diperjualbelikan. Tapi dikurangi dengan biaya biaya yang diperlukan. Baru dihitung totalnya dan dikeluarkan zakatnya. Barang stok dihitung berdasarkan nilai/harga jualnya (karena nanti akan dikurangi dengan biaya biaya).

  1. T: Saya ingin bertanya mengenai zakat usaha. Saya punya usaha di jepang, tapi selama ini tidak bisa dikeluarkan zakatnya karena kalo dikeluarkan maka saya dianggap nyopet/korupsi uang perusahaan. Tapi sampai saat ini selalu saya akali. Saya ada pengalaman bahwa saya juga ditarik pajak oleh pemerintah Indonesia (padahal saya usaha di jepang?), saat ini pemerintah Indonesia sedang menggalak-galakkan program pajak yang tinggi, akhirnya saya selesaikan juga masalahnya di Indonesia. Yang ingin ditanyakan, Bagaimana mengenai zakat secara hukum di Indonesia?

    J: Yang perlu berzakat tidak hanya perusahaan tetapi juga karyawannya. Minimal karyawan kita harus dikontrol agar berzakat. Selain itu sebagai contoh, orang yang memiliki saham perusahaan asing di Indonesia, mereka berzakat berdasarkan kepemilikan saham. Saya pernah mengisi ceramah bagaimana cara menghitung zakat di BUMN, maka saya sampaikan bahwa zakatnya harus dikeluarkan sebelum ditunaikan hak kepada para karyawannya. Zakat secara undang undang sudah ada di Indonesia, harus dikeluarkan baik pribadi maupun perusahaan. Adapun mengenai hubungan dengan pajak masih kurang jelas. Kami juga sudah ada diskusi dengan dirjen pajak, agar pajak bisa nol ketika zakat sudah keluar, semoga kedepannya bisa lebih baik. Dulu masih ada pendapat bahwa zakat adalah saingannya pajak. Apabila zakat terkelola dan terkumpul dengan baik, maka dikhawatirkan akan mengurangi pajak. Padahal ketika zakat naik maka pajak juga naik, begitulah korelasinya (sesuai dengan pembahasan materi diatas-ed). Ketua baznaz sekarang adalah menteri keuangan. Kita berharap kedepannya dapat terus dibuktikan. Jangan sampai seperti yang tadi dikatakan bahwa upper class bisa mempermainkan pajak, tapi middle class tidak bisa jadi kena sasaran terus. Mudah mudahan zakat dan pajak bisa terus berkembang dengan baik korelasinya.