Ash

Menjadi bagian dalam pembuktian bahwa Islam adalah Rahmatan lil Alamin


Leave a comment

Toko Baju

Kenapa sich di toko baju gak pernah ada kursi untuk menunggu. Termasuk di toko toko baju besar. Padahal kan yg masuk toko baju itu gak harus semuanya mau belanja. Bisa aja ada suami yg nemenin keluarganya belanja, ada anak yg cuma ikut nemenin ibunya belanja, ada temen yg nemenin temennya belanja, dll.

Apa mereka gak nyadar bahwa meletakkan kursi adalah salah satu bentuk pelayanan maksimal pada costumer? Atau mereka memang punya hasil kajian tersendiri bahwa meletakkan kursi di toko baju menurunkan keuntungan atau lainnya?

Klo kenyataannya yang pertama, maka ide meletakkan kursi harusnya adalah ide brilian yg semestinya diaplikasikan di toko toko. Ataukah kenyataannya yang kedua, yang saya sendiri juha ingin tau apa relasinya. Ada yang tau? Mari berbagi di comment ya..

Advertisements


Leave a comment

Yakiniku Kameido

Makan yakiniku sepuasnya (食べ放題) adalah surga dunia jika anda tidak punya penyakit darah tinggi atau kolesterol. Apakah org sehat boleh makan sesukanya? Ya enggak juga sich, halal dan thayyib adalah parameter penting apabila kita mau makan sepuasnya. 

Ceritanya ada restoran yakiniku halal di tokyo (kameido) dan bisa makan sepuasnya. Jadilah kami (saya istri dan bayi,hehe) nyobain makan disana. Lokasinya di deket kameido station. Akhirnya kami makan disana dan sepertinya ada beberapa pengalaman yg bisa di share. Pengalaman ini bertujuan agar apabila anda mau kesana, bisa memaksimalkan pesanan sesuai dengan limit waktu yg ada. Kemarin saya gak ada survey2 sama sekali, jadi langsung hajar dateng dan akhirnya beberapa menit awal waktu terbuang percuma karena banyak hal yg tidak dimengerti.

  
1. Definisi

Buat anda yg pernah/sedang belajar bahasa jepang, pasti bisa menebak arti バイキング yaitu bersepeda (biking). Tapi eh ternyata, kata itu memiliki arti lain. Artinya sama dengan 食べ放題 yaitu: makan sepuasnya.

Baru tau? Saya baru tau pas disana, itupun setelah gak bisa memahami apa maksud kertas menu diatas, dan bagaimana cara pesannya. Akhirnya buka kamus trus kesel karena baru tau itu artinya.

2. Pilihan menu

Jadi ada 3 pilihan menu dengan 3 harga berbeda. Yg saya foto adalah menu yg paling murah. Ada lagi yg medium sekitar ¥2500an dan yg eksklusif ¥4500an. Semua pilihan menu (klo gak salah) sama sama untuk 90 menit makan sepuasnya. Bedanya adalah di kualitas daging yg diberikan (katanya) dan banyaknya jenis daging yg ditawarkan. Klo di foto diatas, yg ditawarkan ada 15 jenis. Yg lebih mahal ada lagi tambahan pilihannya.

Metode penyajian, untuk daging cara makannya yaitu order style: pesen dulu baru dikasih, bukan disajikan prasmanan. Klo nasi, sayur, lauk lain, eskrim dan air putih itu baikingu style: ambil sepuasnya. Klo softdrink, beda lagi biayanya (kata posternya).

Nah, karena daging pesan dulu, jadinya kita harus ngerti dech itu yg ditulis maksudnya apa aja. Gw nyampe sana kaga ngerti apa2 beneran beberapa menit di awal cuma gw habiskan dengan cengo. Akhirnya nanya temen dech yg pernah kesini dan dikasitau beberapa. Nah, saya mau membahas beberapa yg sempat saya pesan kemaren. 

Kemaren saya cuma sempet nyoba 5 jenis, karena si abang2nya bilang, “gak boleh pesen banyak2 trus gak habis. Klo gak habis saya in trouble”. Dalem hati sich mikir, kok gak ramah banget sich ngomongnya, trus ya itu kan harusnya resiko dagang, kenapa malah curhat. Nah karena disampaikannya dalam bahasa jepang, watashi wa komarimasu, ini memiliki makna bahwa dia gak ingin/ridho ini jadi trouble jadi intinya harus habis. Dato omou. Yasudahlah, toh mubazir kan dosa, jadi mari kita makan sepuasnya tapi tidak mubazir.

Jadi, yg sempat saya pesan adalah: gyuutan, harami, karubi, shio karubi, ama roosu. Semuanya enak. Semuanya daging tipis kecuali gyuutan. Klo daging tipis, matengnya cepet jadi makannya bisa cepat dan banyak. Gyuutan agak tebel dan masaknya harus lama banget, klo kurang lama dia masih alot dan kurang enak makannya.

3. Cara makan

Mungkin udh tau ya, dagingnya nanti tinggal di taro aja di pemanggangnya. Sebelumnya dicocol dulu ama shoyunya juga enak. Jangan ambil nasi terlalu banyak nanti kenyang, hehe..

Trus klo mereka sich nyaranin makannya pelan pelan supaya nikmat, taro dagingnya sedikit2 di pemanggangnya supaya lebih cepat matang dan gak ada yg overcook. Lah, gw mah bodo amat, masukin aja semua dagingnya, terus makan yg kira2 udh mateng biar cepet, hehe..

Jadi karena dagingnya order style dan harus habis, kan gak enak juga pesen banyak2 sekaligus. Pesen lagi tapi belom habis juga kan gak enak. Jadinya ya di atur aja pesen 2 jenis dulu, sambil ngecek ini enak atau enggak, trus bisa atur strategi untuk pemesanan selanjutnya. Pas udh tinggal dikit, masukin aja semuanya ke pemanggangnya, trus panggil abang2nya untuk pesan lagi sambil ngasih piring yg udh kosong.

4. Lain lain

Restorannya luas, dan ada mushalanya gede. Sebaiknya klo pas makan shalat dulu aja trus baru mulai makan biar shalatnya khusu dan makannya gak kepotong ditengah, hehe..

Si abang2nya menurut saya pribadi agak kurang ramah. Mungkin karena dia tau saya pesennya yg paling murah kali ya, walaupun diawal dia merekomendasikan yg medium. Trus waktu pesen yg paling murah, dia wanti2 ke kita, nanti klo gak enak atau ada daging yg keras jangan protes ya.. saya kan udh merekomendasikan yg enak jadi gak boleh protes. Ditambah larangan gak boleh gak habis tadi, lengkaplah saya merasa bahwa abang2nya bawel.

Diluar itu, saya cukup terkesan karena selain 5 jenis daging diatas, sang pemilik restoran menyajikan satu piring daging tambahan yg tidak ada di menu. Trus katanya ini service, waah jadi senang. Dari mana saya tau itu yg ngasih pemilik restonya? Dari si abang2 pelayannya, dia bilang klo bapak2 itu adalah pemilik restonya..

Overall saya puas makannya, dan klo kesana lagi bakal tetep pesen yg paling murah tapi nyobain jenis daging yg laen, hehe..


Leave a comment

Dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ « لاَ مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاَةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendo’akan kalian dan kalian pun mendo’akan mereka. Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” Kemudian ada yang berkata, ”Wahai Rasulullah, tidakkah kita menentang mereka dengan pedang?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci, maka bencilah amalannya dan janganlah melepas ketaatan kepadanya.” (HR. Muslim, no. 1855)

Sumber : https://rumaysho.com/14852-khutbah-jumat-gubernur-yang-bengis.html

Ya Allah, semoga jokowi bisa menjadi pemimpin yang adil, amanah, serta tidak dikendalikan oleh orang orang musyrik/kafir/munafiq. Aamiin


2 Comments

Mencoba produktif

Bismillah,

Mau mencoba produktif ah dengan membuat tulisan tulisan singkat. Contohnya seperti tulisan ini, yg belum ada isinya sama sekali, hehe.. 

Bingung juga mau tulis apa, dari pada kesal hati liat fb yang tak kunjung adem. Intinya nulis aja dulu lah.. Dibiasain dari kayak sekarang ini aja, walaupun belum bermutu tapi perlahan lahan tambah mutunya.

Klo liat fenomena fb, sedih sekali banyak org yg suka asal share berita. Apalagi dari *osmetro.co. Klo kata salah satu tim antihoax, web itu adalah salah satu sumber hoax. Yg disedihkan, tidak sedikit orang muslim yg menshare berita dari sana, terutama klo udh berbau2 yg mendukung pendapatnya..

Jadi inget klo di fb menerapkan prinsip bubble (entahlah namanya lupa). Jd si bubble itu bikin kita selalu berada di dalam bubble (apasih). Jd kita akan selalu membaca timeline/berita dari org2 yg sependapat dengan kita aja (yg paling sering kita like), jadilah ada org yg hanya paham satu sisi saja, baik kiri maupun kanan, tanpa bisa melihat lebih luas dan objektif. Ditambah lagi semakin banyaknya berita dari sumber hoax yg berkeliaran..

Ah sudahlah, udh kabur ke blog malah jadi ngomongin fb..

Mari kita makan es bubble


4 Comments

Membuat monitor CCTV di rumah sendiri

Self-assemble and Low-cost design of home CCTV with single input activation.

Tinggal di negeri orang yang tidak terlalu lancar bahasanya, menuntut kita untuk selektif dalam membuka pintu rumah apabila ada tamu tak diundang. Kalau mau melihat siapa tamu yang datang lubang mengintip yang di pintu, kita harus repot-repot jalan dulu ke depan pintu terus mengecek, itu pun sebaiknya langkah kita tidak kedengeran ama orang diluar biar tidak dianggap php. Selain itu klo kayak rumah saya yang gak ada kaca ngintipnya, ya jadi gak bisa pake cara ini, hehe.. Mengintip lewat jendela, khawatir pas sama2 melihat jendela jadi kepergok gak enak. yang paling enak adalah lewat CCTV. Masalahnya cctv klo beli jadi itu mahal, oleh karena itu untuk menghemat biaya, maka kita perlu memutar otak sedikit supaya bisa bikin sistem cctv sendiri yang murah meriah.

Akhirnya saya bikin sistem cctv sendiri di rumah demi menghemat biaya. Idenya simple yaitu menggunakan komponen kamera dan monitor dari mobil truk yang biasa dipakai di jepang, dan tentunya kita bisa pilih2 kamera dan monitornya sesuai kebutuhan, hehe.. selain itu karena mau hemat listrik juga, jadi sistemnya hanya kita hidupkan (on) secara manual klo memang ada yang ngebel rumah kita, selain itu kita off. Jadi secara fungsional tidak persis seperti cctv yang bisa merekam video, tapi disini lebih kepada untuk monitoring real time aja, dan saya rasa fungsi ini sudah lebih dari cukup. Untuk detailnya dapat dilihat di bawah ini:

Komponen yang diperlukan:

  1. Kamera.
    • bisa yang mana aja, yang penting anti air supaya aman klo kena ujan.
    • beli di amazon: https://www.amazon.co.jp/gp/product/B00GSFIJS6/ref=oh_aui_detailpage_o00_s00?ie=UTF8&psc=1
  2. Monitor.
    • bisa yang mana aja, yang murah aja cukup
    • beli di amazon: https://www.amazon.co.jp/gp/product/B0079RJ4AE/ref=oh_aui_detailpage_o00_s00?ie=UTF8&psc=1
  3. Adaptor 12V.
    1. intinya untuk powernya kamera dan monitor.
    2. beli di amazon: https://www.amazon.co.jp/gp/product/0101626185/ref=oh_aui_detailpage_o02_s00?ie=UTF8&psc=1
  4. Kabel power adaptor cabang 2.
    • untuk menghemat adaptor, kita gunakan power cabang
    • beli di amazon: https://www.amazon.co.jp/gp/product/B00X5D240S/ref=oh_aui_detailpage_o09_s00?ie=UTF8&psc=1
  5. Kabel data.
    • Biasanya dapet sekalian kamera, butuh sepanjang yang kita butuhkan dari lokasi kamera ke lokasi monitor. klo kamera diatas sudah include kabel data sepanjang 6 meter, klo kurang maka beli lagi di amazon.
  6. Kabel power.
  7. Switch on/off
    • Karena kita ingin hemat listrik, maka cctv didesain hidup atau mati sesuai kebutuhan sehingga switch on/off adaptor dibutuhkan. bisa beli di amazon atau donkihote.
    • beli di amazon: https://www.amazon.co.jp/%E3%83%A4%E3%82%B6%E3%83%AF-YAZAWA-%E3%83%A4%E3%82%B6%E3%83%AF%E3%82%B3%E3%83%BC%E3%83%9D%E3%83%AC%E3%83%BC%E3%82%B7%E3%83%A7%E3%83%B3-%E7%9C%81%E3%82%A8%E3%83%8D%E3%82%BF%E3%83%83%E3%83%971%E5%80%8B%E5%8F%A3-Y02F110WH/dp/B016JIODR2/ref=sr_1_5?s=electronics&ie=UTF8&qid=1469580229&sr=1-5&keywords=%E9%9B%BB%E6%BA%90%E3%82%B9%E3%82%A4%E3%83%83%E3%83%81

Cara membuat:

  1. Siapkan kabel sepanjang yang kita butuhkan dari lokasi kamera ke lokasi monitor di dalam rumah.
  2. Pasang seluruh komponen
  3. selamat mencoba

 

to be continue klo sempet, hehe..


10 Comments

Pengalaman Melahirkan di Jepang (Part 3)

Pengalaman Melahirkan di Jepang, Part 3
Dokumen yang perlu diurus pasca melahirkan

Pregnancy experiences in Japan, Part 3
Necessary document post-delivery
(English summary in bottom part)

Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan pengalaman awal kehamilan sampai melahirkan di jepang Part 1 dan Part 2. Pada tulisan ini dibahas detail mengenai administrasi yang perlu diurus setelah melahirkan agar bayi kita bisa hidup di Jepang secara legal, dan tentunya mengurus dokumen-dokumen agar kita bisa mendapatkan fasilitas untuk biaya berobat bayi gratis, serta subsidi bulanan untuk bayi yang digunakan untuk mensupport kehidupan pasca melahirkan di Jepang.

Vector business concept in flat style - paper documents and workplace - contract management

*image credit to http://www.shutterstock.com

List Dokumen yang Perlu Diurus

Setelah selesai dengan ke-hectic-an urusan melahirkan di rumah sakit, maka urusan yang tidak kalah penting untuk diselesaikan adalah administrasi bayi pasca melahirkan di Jepang. Saya sempat googling2 mencari informasi, sempat bingung karena informasi lama dan agak berbeda, dan juga ada perubahan perubahan aturan yang ada, jadilah saya hanya bisa mengambil kesimpulan garis besar urusan2 yang perlu dilakukan. Untuk lebih pastinya, saya coba bertanya-tanya langsung di kantor kecamatan (Kuyakusho) tempat saya tinggal yaitu Miyamae-ku, Kawasaki-shi, Kanagawa-ken. Pada intinya, beberapa dokumen yang perlu diurus adalah:

  1. Lapor kelahiran (shussei todoke 出生届)
  2. Buat Asuransi kesehatan bayi (hoken 保険書)
  3. Daftar tunjangan biaya bulanan bayi (Jidouteate 児童手当)
  4. Buat kartu berobat bayi gratis (iryoushou 医療証)
  5. Selesaikan urusan tunjangan melahirkan (shussan ikuji ichijikin 出産育児一時金)

Empat urusan diatas (1-4) diatas dilakukan di kuyakusho dan selesai dalam satu hari. No 5 baru bisa diurus setelah dapat bon total terakhir dari rumah sakit. Selain lima dokumen diatas, tiga (3) dokumen lain yang tidak kalah penting dan diurus di kantor imigrasi jepang serta KBRI yaitu:

  1. Bikin Resident Card (VISA) bayi (Zairyuu kaado 在留カード) di kantor Imigrasi Jepang.
  2. Buat Surat Keterangan Lahir (SKL) di KBRI
  3. Buat Passport Bayi di KBRI.

Yang cukup menarik disini adalah, bikin zairyu card bayi bisa didahulukan dibandingkan mengurus passport bayi. Hal ini karena bayi yang baru lahir harus segera dilaporkan ke kantor imigrasi jepang dalam waktu 30 hari setelah kelahiran agar mendapatkan visa dan bisa tinggal secara legal di jepang. Selain itu, mengurus SKL membutuhkan 2 hari, ditambah passport sekitar seminggu. Agak mepet kalo harus urus passport dulu kemudian baru zairyu card, kecuali kita memang memiliki keluangan waktu mengurusnya secara serial. Detail administrasi tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

 

  1. Lapor kelahiran (shussei todoke)

Lapor kelahiran, atau biasa dikenal dengan istilah shussei todoke (出生届), adalah prosedur melaporkan bahwa bayi kita telah lahir dan ingin didaftarkan pada kartu keluarga kita (juuminhyo). Dari pihak rumah sakit, kita akan mendapatkan sertifikat kelahiran (shussei shoumeisho出生証明書) yang kemudian sertifikat itu kita bawa ke kuyakusho untuk diproses lebih lanjut. Saat sampai di kuyakusho, bilang aja ke petugas disana klo kita mau lapor kelahiran bayi (shussei todoke) nanti mereka kasitau ke loket nomor berapa. Klo di miyamae kuyakusho, ke loket nomor 4. Kemudian minta juga juri shoumeisho karena dibutuhkan untuk persyaratan selanjutnya. Juri shoumeisho diberikan kepada kita based-on request dan bayar ¥300 perlembar (klo gak salah).

Dokumen yang perlu dibawa: Shussei shoumeisho, resident card dan hoken ortu, boshitecho.

Output dari sini adalah: Juri shomeisho (受理証明書), dan juuminhyou (住民票) yang update dengan nama bayi kita.

 

  1. Buat Asuransi kesehatan bayi (hoken / hokensho)

Sistem asuransi kesehatan di jepang bisa menggunakan asuransi dari pemerintah / national health insurance (kokumin kenkou hoken 国民健康保険) atau dari swasta. Untuk pelajar biasanya hoken pemerintah, klo orang yang kerja bisa pakai asuransi dari perusahaan. Manfaat membuat asuransi ini sangat besar karena biaya kesehatan di Jepang sangatlah mahal, dan ini juga adalah bentuk kepedulian pemerintah kepada warganya dalam hal kesehatan. Membuat asuransi ini sangat mudah prosesnya, cukup datang ke kuyakusho dan menunjukan bahwa kita (ortu) menggunakan hoken dari pemerintah maka anak kita juga akan terdaftar otomatis dalam hoken pemerintah. Di miyamae kuyakusho, buat hoken ini di loket no 4, barengan dengan shussei todoke.

Dokumen yang perlu dibawa: Shussei shoumeisho, resident card dan hoken ortu, boshitecho.

Output dari sini adalah: kartu asuransi (hokensho) atas nama anak kita.

 

  1. Daftar tunjangan biaya bulanan bayi (Jidouteate)

Pemerintah Jepang memang sangat serius dalam men-support warganya untuk melahirkan dan punya anak. Anak yang lahir ada rezekinya sendiri, dan ini di-implementasikan dalam bentuk tunjangan bulanan dari pemerintah kepada bayi. Besar tunjangannya klo gak salah bervariasi untuk setiap kota, tapi untuk Kawasaki besarnya adalah 15.000 yen/bulan. Klo di miyamae kuyakusho, daftarnya di loket nomor 5, sebelahnya shussei todoke. Disini yang sedikit unik adalah, sebelum kita bisa daftar tunjangan ini, kita harus menyelesaikan dulu urusan hoken dengan loket sebelah. Hal ini karena pendaftarannya perlu mencatat nomor hoken sang bayi. Tadinya saya mengurus semuanya parallel, tapi kata orangnya tidak bisa, sebaiknya tunggu dulu di antrian hoken, dan setelah selesai baru mengurus tunjangan dll. Untungnya hoken jadinya gak lama, mungkin menunggu antrian sekitar 30 menit.

Dokumen yang perlu dibawa: Resident card dan hoken ortu, buku tabungan ortu, hanko ortu, hoken anak.

Output dari sini adalah: telah terdaftar dalam tunjangan bulanan, dan brosur2 tentang jidoteate.

 

  1. Buat kartu berobat bayi gratis (iryousho)

Selain kartu asuransi diatas, biaya berobat bayi di Jepang itu semuanya GRATIS asalkan kita membuat iryousho. Luar biasa memang, seharusnya tidak ada lagi keraguan buat warga jepang untuk menikah dan punya anak, tapi masih saja problem social yang satu ini tidak terselesaikan di Jepang. Bayi sakit apapun, di rumah sakit manapun, asalkan bisa menunjukan iryousho ini, maka seluruh biaya pengobatannya menjadi NOL. Orang kuyakusho sempet bilang sich, ada beberapa rumah sakit yg belum menerima iryousho ini, tapi klopun kita harus berobat disana, maka cukup lampirkan receipt pembayaran, dan seluruh biaya akan diganti reimburse oleh pemerintah melalui kuyakusho.

Dokumen yang perlu dibawa: Resident card dan hoken ortu, hanko ortu, hoken anak.

Output dari sini adalah: kartu berobat bayi iryousho (医療証).

 

  1. Selesaikan urusan tunjangan melahirkan (shussan ikuji ichijikin)

Seperti yang telah saya jelaskan di tulisan sebelumnya part 2, bahwa biaya melahirkan di jepang mendapat subsidi sebesar 420.000 yen dari pemerintah. Uang ini bisa disetorkan langsung ke rumah sakit atau kita ambil tunai setelah selesai melahirkan. Untuk yang memilih cara kedua, tentu saja perlu datang ke kuyakusho untuk mengurus ini. Untuk yang memilih cara pertama, apakah perlu untuk melapor lagi? Sebaiknya ya melapor juga. Saya sendiri melapor lagi karena biaya melahirkannya lebih kecil dari subsidi yang diberikan, jadi saya bisa ambil uang kelebihannya dengan cara melapor ini.

Dokumen yang perlu dibawa: Resident card dan hoken ortu, buku tabungan ortu, hanko ortu, hoken anak, dan receipt biaya total rumah sakit.

Output dari sini adalah: Uang sisa yang akan ditransfer ke tabungan kita.

 

  1. Bikin Resident Card (VISA) bayi (Zairyuu kaado) di kantor Imigrasi Jepang.

Nampaknya urusan ke kantor imigrasi, baik itu imigrasi Jepang ataupun KBRI, selalu saja dinodai dengan tidak lengkapnya dokumen yang dibawa. Saya biasanya selalu teliti untuk masalah kayak gini, menyiapkan berbagai cadangan dokumen, tapi untuk dokumen yang tidak telalu dekat kaitannya, biasanya tidak saya bawa. Contohnya ketika mengurus ini, seluruh dokumen yang diminta sudah saya bawa dengan lengkap, kemudian tiba-tiba saja dibilangin petugasnya klo saya perlu menunjukan surat keterangan student. Tentu saja saya tidak menduga ini karena seluruh dokumen yang diperlukan itu yang terkait dengan bayi saja, kenapa jadi perlu dokumen itu? Ada kemungkinan karena saya statusnya student dan (agak aneh mungkin) punya anak. Kemudian saya tunjukan dokumennya dalam softcopy dari hape saya dan mereka bilang perlu dokumen tersebut dalam bentuk print. Yowes jadinya saya gagal mengurus resident card hari itu di shin sugita. Kemudian saya tanya apakah saya bisa mengurus ini di shin-yurigaoka (karena lokasinya lebih dekat rumah saya), dan mereka bilang boleh, jadinya keesokan harinya saya mengurus di shin-yurigaoka dengan membawa tambahan dokumen student certificate (dan transkrip dan surat monbusho buat jaga jaga) dan Resident card nya selesai hanya dalam hitungan sekitar 30 menit.

Photo 8-17-16, 13 46 36

Dokumen yang perlu dibawa: Form aplikasi, form quisioner, letter guarantor, Parpost ortu, passport anak klo udah jadi, Juri shoumeisho dan Juminhyou terbaru (dapat dari kuyakusho). Buat tambahan kita yang student: student certificate (transcript dan keterangan beasiswa buat jaga-jaga).

Output dari sini adalah: Resident card bayi (tanpa foto).

 

  1. Buat Surat Keterangan Lahir (SKL) di KBRI

Surat keterangan lahir (SKL) adalah pengganti akte kelahiran anak yang lahir di Jepang. Hal ini karena yang boleh mengeluarkan akte kelahiran adalah pemerintah di Indonesia, maka anak2 yang lahir di luar harus mengurus SKL yang kemudian SKL ini bisa dikirim ke Indonesia untuk diurus akte kelahirannya dan dimasukkan ke dalam KK kita di Indonesia. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, selalu saja ada sedikit masalah kalau mengurus dokumen di kantor imigrasi (dalam kasus ini KBRI), yaitu kurang sedikit dokumen, yang mana dokumen itu tidak diminta di list persyaratan. Phew.. Untungnya saya bawa dokumen lebih jadi saya tidak perlu mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Ketika mengurus SKL ini, dokumen saya yang “kurang” tersebut itu adalah fotokopi resident card ortu (bapak dan ibu). Walaupun di KBRI ada mesin foto kopi, katakanlah yang mengurus dokumen ini bapaknya, klo si bapaknya kagak bawa ktp ibunya, maka selesailah itu (DONE!) pengurusan dokumen, pulang, trus besoknya baru bisa dateng lagi ke KBRI. Pengurusan SKL tidak bisa parallel dengan passport, jadi harus bikin SKL dulu, trus SKL jadi setelah 1-2 hari, kemudian ambil SKL sambil urus passport, dan passport yang udah selesai bisa dikirim gak harus diambil di KBRI. Intinya saya perlu ke KBRI minimal 2 kali untuk pengurusan dokumen SKL dan passport. SKL memang bisa dikirim ke alamat penerima, tapi apa artinya dikirim klo ujung2nya kita harus ke KBRI lagi untuk mengurus passport. Dan Urutan pengurusan dokumen itu harus SKL dulu baru passport, gak bisa dibalik. Tapi alhamdulillah semua dokumen selesai dengan lancar.

Syarat SKL

Dokumen yang perlu dibawa: Form aplikasi, passport ayah dan ibu (asli dan fotokopi), Fotokopi akta/buku nikah, Fotokopi surat keterangan lahir (shussei shoumeisho atau shussei todoke), Surat kelahiran dari pemerintah (Juri shoumeisho) asli, Fotokopi halaman dalam boshitecho (Yang ada nama ayah, ibu, anak, jam lahir, dll), Biaya 1200 yen. Tambahan: Fotokopi resident card ortu.

Output dari sini adalah: Surat keterangan lahir (SKL) asli dan fotokopi.

 

  1. Buat Passport Bayi di KBRI.

Setelah SKL selesai, saya ke KBRI lagi untuk mengambil dan menggunakan fotokopiannya untuk pengurusan passport. Lagi lagi ada saja dokumen yang kurang (padahal tidak ada di list persyaratan), untuk pembuatan passport ini, dokumen saya yang “kurang” tersebut adalah fotokopi akte/buku nikah ortu (hahaha, itu klo sang ortu ke KBRI ngurus passport tapi gak bawa buku nikahnya/fotokopinya, maka dia harus pulang lagi kali ya..). Untungnya setelah passport jadi, bisa dikirim dengan menggunakan letter pack, jadi kita tidak harus balik lagi ke KBRI. Satu hal yang unik adalah, dalam pengurusan passport, maka pasfoto bayi termasuk ke dalam persyaratan wajib, berbeda dengan resident card jepang yang tidak mewajibkan foto bayi. Memfoto bayi untuk jadi pasfoto cukup tricky, karena bayi fotonya sambil tiduran dan kepalanya gerak gerak. Aturan/Proporsi foto adalah 70-80 % wajah dengan background warna putih serta baju berwarna putih/terang.

Syarat paspor

Dokumen yang perlu dibawa: Form aplikasi (permohonan SPRI), fotokopi resident card ortu, fotokopi akte lahir bayi, Bukti domisili (Juuminhyou), fotokopi passport ortu, 4 lembar pasfoto bayi ukuran 3×4, dan biaya 2650 yen. Tambahan: Fotokopi akte/buku nikah ortu, Resident card dan passport asli ortu.

Output dari sini adalah: Passport bayi (yang ada fotonya, hehe).

 

Summary

Demikian pengalaman saya mengurus dokumen untuk bayi saya yang baru lahir. Perjuangan tidak selesai sampai disini, karena lembaran baru kehidupan akan dimulai bersama sang bayi tercinta.

In conclusion, the necessary document that need to be handle after the delivery are:

  1. Register that our baby had been born to the kuyakusho (shussei todoke 出生届)
  2. Apply for National Health Insurance (hoken 保険書)
  3. Apply for Baby Allowance (Jidouteate 児童手当)
  4. Apply for Baby Health Card (iryoushou 医療証)
  5. Completing the document of Birth lumpsump/Allowance (shussan ikuji ichijikin 出産育児一時金)
  6. Make resident card (Zairyuu kaado 在留カード) in Immigration office Tokyo/Yokohama.
  7. Make passport for your baby in your embassy.

Hope this information useful for you.

 

 


7 Comments

Pengalaman Melahirkan di Jepang (Part 2)

Pengalaman Melahirkan di Jepang, Part 2
Menjelang dan Ketika Melahirkan

Pregnancy Experiences in Japan, Part 2
Approaching the delivery
(English summary in bottom part)

Tulisan ini adalah kelanjutan dari pengalaman kami menjalani proses kehamilan dan melahirkan di Jepang Part 1. Pada tulisan ini akan dijelaskan khusus mengenai pengalaman ketika menjelang melahirkan, berbagai persiapannya, mengenai subsidi biaya melahirkan, dan pengalaman melahirkan itu sendiri. Adapun mengenai detail dokumen yang perlu diurus setelah bayi kita lahir dijelaskan di part 3.

baby girl announcement card

*image credit to http://www.shutterstock.com

Menjelang Melahirkan

Ada banyak sekali perasaan campur aduk menjelang melahirkan. Memasuki trimester ketiga, banyak tips2 dan saran untuk ibu hamil dari berbagai sumber agar proses melahirkan bisa lancar. Masa masa ini juga masa yang paling menyenangkan karena kita juga excited mencari nama2 terbaik untuk putra/putri kita. Disini saya tidak akan bahas mengenai tips2 tersebut, tapi saya akan jelaskan lebih detail mengenai proses apa saja yang perlu kami jalani di rumah sakit di Jepang ini.

Saya juga sempat bingung, bagaimana cara meminta biaya subsidi melahirkan yang katanya akan dikasih oleh pemerintah jepang. Subsidi ini namanya: one time lumpsum for delivery, shussan ikuji ichijikin (出産育児一時金). Besar subsidi ini untuk Tokyo dan sekitarnya adalah 420.000 yen. Saya sempat mampir ke kuyakusho untuk bertanya-tanya, dan ternyata biaya tersebut bisa diambil dengan 2 cara: dibayarkan langsung ke rumah sakit, atau diganti tunai. Untuk kebanyakan rumah sakit jepang, biasanya sudah menyediakan form dari rumah sakitnya bahwa rumah sakit tersebut berhak mengambil biaya melahirkan dari kuyakusho langsung dengan melampirkan dokumen yang ditanda tangani (dan inkan) oleh kita dan istri. Di tama byouin sudah ada dokumen tersebut jadi cukup ttd dan inkan, dan serahkan dokumen itu ke tama byouin ketika akan rawat inap melahirkan. Dokumen tersebut didapat saat pertama kali dapat penjelasan tentang rumah sakit, dan ada kertas form dalam bahasa jepang. Untuk diganti tunai, biasanya teman2 yang melahirkannya di Indonesia, bisa melampirkan tanda bukti melahirkan dari rumah sakit di Indonesia, dan struk biaya. Walaupun nanti biayanya dibawah nilai subsidi pemerintah, kita akan tetap dapat sejumlah subsidi tersebut kata teman saya yang sudah pengalaman langsung. Saya sendiri menggunakan cara pertama. Intinya, tidak perlu ke kuyakusho, uang tersebut akan cair dengan otomatis ke rumah sakit, asalkan kita pertama sudah melaporkan hamil ke kuyakusho, memasukkan tanggal perkiraan lahir, dan sudah dapat boshitecho (silahkan baca part 1).

 

Pemeriksaan oleh Bucho

Sekitar di bulan ke 6 (week 24-28), akan ada pemeriksaan rutin yang dilakukan oleh kepala department obgyn di rumah sakit tersebut (bucho). Biasanya setiap pemeriksaan rutin, kami selalu mancari jadwal yang cocok dengan kita dan memang dokternya perempuan. Nah khusus di periode itu, pemeriksaan Harus dilakukan oleh bucho karena supaya ada crosschecking antara dokter. Sayangnya, di tama byouin buchonya itu laki-laki, jadilah terpaksa dilakukan pemeriksaan dengan dokter cowo. Sekitar beberapa minggu sebelumnya kami diberitau bahwa akan ada pemeriksaan dengan bucho, dan pada saat itu ada pilihan apakah mau menggunakan ruangan khusus atau tidak. Klo di ruangan khusus, nanti bisa melihat monitor USG lebih jelas buat suami, karena selama ini suami gak boleh masuk ke ruangan usg, akan tetapi ada bayaran tambahan sekitar 5000 yen. Klo mau akan dibooking ruangannya saat itu, klo tidak ya pemeriksaan biasa (tapi tetep ama bucho). Setelah berpikir beberapa detik, akhirnya diputuskan tidak usah menggunakan ruangan tersebut karena bayar, haha..

Ketika pemeriksaan dengan bucho, beliau menyapa dengan cool dan suara yang berat (biasanya dokter cewe dan suaranya agak2 nyaring). Kemudian ditanya macam2, dan dilakukan pemeriksaan usg. Saya menunggu di ruang dokter seperti biasa, tapi ternyata dokternya sangat baik dan saya boleh ikutan masuk ke ruang usg. Trus saya dikasih liat di monitor ada apa aja, dll. Wah diluar dugaan ternyata buchonya baik, atau mungkin mereka berusaha memberikan service terbaik karena terpaksa kali ya.. saya pernah bilang ke susternya soalnya bahwa klo mencari jadwal saya selalu mencari dokter yang perempuan. Pihak rumah sakit juga pernah confirm ke saya, klo saat melahirkan namun dokter yang ada laki-laki bagaimana, saya bilang tidak apa-apa karena kondisi itu kan terpaksa. Pada bulan ke 6 itu juga, sang bucho menanyakan apakah mau mengetahui jenis kelamin anaknya atau tidak, tentu kami bilang mau banget, dan akhirnya diberitahukanlah bahwa anak kami adalah perempuan.. yeeaah.. di bulan ke 5 dokter udah pernah kita tanyain sich jenis kelamin anaknya apa, tapi beliau menjawab dengan jawaban diplomatis, sepertinya anaknya perempuan (onna kamo shiremasen), jadilah kami putuskan untuk bertanya kembali di bulan2 selanjutnya supaya lebih pasti, hehe..

 

Pre-mama Orientation

Kelas persiapan menjadi ibu (dan juga bapak) atau disebut pre-mama orientation (プレママオリエンテーション) diadakan oleh rumah sakit sebanyak satu kali yaitu di sekitar minggu ke 30. Kelas ini wajib diikuti dan suami juga disuruh untuk datang supaya calon ibu dan bapak bisa saling memahami. Kelasnya sekitar 30 menit biasanya, tapi khusus untuk kami kemarin ternyata 30 menit gak selesai karena ada proses menerjemahkan dari Japanese ke English, haha.. jadilah kami diminta untuk mendatangi pre-mama orientation ke 2 yang waktunya diset sekitar 1 jam. Pre-mama orientation itu private, sendiri-sendiri, bukan digabung ama pasien lain, jadi kita bisa bertanya2 dengan bebas. Pre-mama dilakukan oleh suster senior yang ada di rumah sakit tersebut, bukan oleh dokter, dan karena kami menggunakan translator dari RS, maka jadwal pre-mama dengan jadwal pemeriksaan dokter harus sedekat mungkin supaya total durasi pengunaan translator kurang dari 3 jam. Yang agak ribet adalah jadwal pre-mama bookingnya di lantai 3 sedangkan dokter di ruang dokter lantai 1, jadi setelah saya booking jadwal dokter untuk pertemuan selanjutnya, saya ke lantai 3 untuk booking pre-mama, masalahnya jamnya yang deket dengan pemeriksaan dokter gak available, jadilah kami harus ganti jadwal dokter di lantai 1 yang memang di hari yang sama dengan dokter perempuan yang ada (dan harus di jadwal yang harinya juga available buat pre-mama orientation). Jadilah agak bolak balik ngurusnya tapi Alhamdulillah bisa terselesaikan masalahnya.

Pre-mama orientation pertama dijelaskan mengenai manfaat ASI (bonyuu 母乳). Dijelaskan panjang lebar mulai dari manfaatnya bagi ibu menyusui maupun bagi sang bayi. Intinya mereka ingin mengencourage agar sang ibu menyusui dengan ASI, dibandingkan dengan susu formula. Mereka bertanya kami rencananya seperti apa, kami bilang sebisa mungkin ASI, jadi kami juga bilang bahwa klopun nanti ketika lahir ASInya sedikit tidak apa-apa, mohon jangan ditambahkan dengan susu formula kecuali dokter menilai berbahaya untuk kesehatan sang anak baru kami bersedia dikasih sufor. Ternyata sang suster pun juga sepakat dengan pernyataan kita. Kemudian dia menjelaskan mengenai teknik2 pijat yang bisa dilakukan calon ibu supaya ASI bisa keluar dengan lancar.

Karena waktunya sudah gak cukup, akhirnya dilanjutkan penjelasan tentang barang-barang yang perlu dibawa ke rumah sakit, barang-barang yang disediakan rumah sakit, jadwal dan aturan membesuk (menkai 面会), dan mengenai aturan ketika melahirkan. Dijelaskan bahwa yang boleh menemani hanya suami. Nah, disini saya agak kurang memperhatikan penjelasannya, saya pikir karena boleh yasudah. Ternyata yang dimaksud boleh itu hanya di labor room saja, bukan di delivery room. Ini saya baru nyadar di pre-mama kedua, mungkin karena saat itu agak buru2 jadi saya iya2 saja supaya cepat.

Nah, di pre-mama pertama juga, saya jelaskan ke pihak rumah sakit klo di week 38 saya ada urusan di luar jepang (shucchou 出張) yaitu conference, jadi kalo seandainya istri saya melahirkan pada minggu ini bagaimana? Boleh tidak kalo yang menemani melahirkan itu teman? Kan aturannya hanya suami yang boleh, karena masalahnya istri saya tidak bisa bahasa jepang. Susternya agak bingung ngejawabnya gimana, tapi karena ini kondisi penting, jadinya selesai pre-mama, saya diminta ke lantai 3 untuk ketemu ama kepala susternya. Ketika ketemu, saya jelaskan kondisinya dan mereka pun bertanya. Salah satu poinnya adalah bagaimana masalah pertanggungjawabannya? Karena ketika nanti melahirkan, ada begitu banyak hal yang perlu dipertimbangkan dan butuh persetujuan, seperti induksi, transfusi, sesar, dll. Klo yang menandatangani temannya bagaimana? Kekhawatiran tersebut sangat wajar mengingat status “teman” itu tidak terlalu kuat dibandingkan “keluarga”. Kemudian saya bilang ke mereka bahwa yang bertanggung jawab tetap saya tapi yang menanda tangani seluruh dokumen adalah teman saya. Mungkin nanti saya akan buatkan surat kuasa supaya lebih kuat. Kemudian mengenai keputusan yang perlu diambil, biasanya kami akan mengikuti apa keputusan rekomendasi dari dokter jadi tidak masalah. Akhirnya susternya bisa mengerti dan memperbolehkan dan termasuk dalam kondisi khusus.

Selesai pre-mama pertama, sekitar 2-4 minggu kemudian kami datang lagi untuk pre-mama yang kedua. Disini dijelaskan lebih detail mengenai proses melahirkan apa saja tahapan2annya, tanda2 akan melahirkan, dan cara menelpon rumah sakit ketika akan melahirkan. Apa saja penjelasannya, akan saya jabarkan di subbab selanjutnya. Saya juga tunjukkan surat kuasa yang saya buat, dan mereka bilang sudah OK. Pre-mama ke dua waktunya sejam jadi banyak hal yang bisa ditanyakan. Disini juga saya jelaskan mengenai makanan yang bisa dimakan oleh istri saya hanya seafood dan sayur. Klo daging hanya yang halal, klo tidak halal tidak usah daging. No pork, sake, dan segala yang sejenisnya.

Disini juga saya baru mengerti bahwa proses melahirkan itu pertama masuk ke labor room dulu baru ke delivery room. Yang boleh ditemani itu hanya di labor room, adapun di delivery room tidak boleh ditemani. Whaat?! Saya berusaha nawar2 dan nakut nakutin sedikit susternya.. ini istri saya gak bisa bahasa jepang, nanti gimana komunikasinya?? Namun usaha saya sia-sia, mereka bilang bahwa di ruang delivery, semua instruksinya simple, dan mereka katanya akan belajar dan berusaha ngomong dalam bahasa inggris. Instruksinya hanya push, don’t push, deep breath, relax. Selain itu ruang labor sama ruang delivery itu sebelahan, jadi kita boleh menunggu diluar ruangan labor/depan ruang delivery. Selain itu ruang delivery tidak ditutup dengan pintu, hanya ditutup oleh gorden, jadi saya masih bisa mendengarkan prosesnya dari luar (bahkan ngintip2 dari luar juga bisa). Mereka juga menjelaskan bahwa mereka ada ruangan khusus klo memang suami mau masuk menemani saat delivery, dan ruangan itu bayar lagi, dan ruangan itu sepaket dengan ruang VIP (yang jenis LDR) jadi bakal ada biaya tambahan yang cukup mahal. Wah klo udh gini saya yang skak mat, gak tau mau nawar apa lagi. Akhirnya saya bilang nanti saya pertimbangkan dulu kira2 ruangan biasa saja atau yg VIP itu. Saya masih belum paham sich apa alasan tidak boleh masuk itu, tapi katanya itu sudah aturan RS. Pernah denger sich cerita (di suatu tempat di jepang) bahwa kalo ditemani suami dan suaminya pingsan ngeliat darah, para dokter dan suster disana katanya bakalan ribet ngurusnya. Selain itu katanya ada juga yang suaminya jadi ilfil ngeliat istrinya ketika proses melahirkan, dll.. Entahlah, mungkin itu statistik jadi mereka membuat kebijakan kayak gitu, atau apapun alasannya intinya proses delivery tidak boleh ditemani oleh suami. Mungkin ini yang menjadi nilai minus dari rumah sakit ini menurut saya.

 

Tanda-tanda akan Melahirkan

Pihak rumah sakit menjelaskan juga lebih detail mengenai tanda tanda akan melahirkan, dan proses melahirkan. Apabila tanda tanda berikut muncul maka dipersilahkan untuk menelpon rumah sakit dan kemudian datang ke rumah sakit. Dijelaskan juga tanda2 apa yang bakal muncul dan belum diperbolehkan untuk menelpon atau ke rumah sakit, karena klo kita ke rumah sakit saat itu, maka kemungkinan kita akan disuruh pulang lagi.

Tanda tanda melahirkan ada 5 (+ 1 tanda darurat):

  1. Kontraksi (jintsuu 陣痛)
    Rasa sakit yang periodik di perut, mirip mules juga. Interval/jedanya bervariasi.
  • Sudah ada kontraksi/sakit di perut. Namun belum terlalu sakit dan jedanya masih jarang.
  • Kontraksi muncul dengan jeda 10 menit, atau dalam 1 jam terjadi kontraksi sebanyak 6 kali atau lebih.
  1. Flek/bercak (oshirushi おしるし)
  • Cairan berwarna kecoklatan atau pink, pendarahan mirip menstruasi.
  • Cairannya disertai darah segar atau pendarahan yang banyak.
  1. Pecah Ketuban (hasui 破水)
    Ada seperti air mengalir keluar dari kelamin, tapi tidak disertai perasaan mau kencing. Volumenya bisa sedikit ataupun banyak. Warnanya bening seperti air biasa. Ketika ada air keluar seperti ini dan kita ragu apakah benar pecah ketuban atau tidak, langsung telpon rumah sakit dan periksa disana.
  1. Rasa sakit yang sangat kuat dari perut, atau bagian tubuh lain.
  2. Sakit kepala hebat, vertigo, mata kunang kunang.
  3. Tidak ada pergerakan bayi (baby’s kick) selama lebih dari 1 jam

Adapun dari kelima tanda diatas, hanya diperbolehkan ke rumah sakit apabila muncul tanda tanda nomor 1b, 2b, 3, 4, 5 (dan 6 emergency). Untuk 1a dan 2a belum diperbolehkan ke rumah sakit. Klo kita nekat ke rumah sakit, biasanya akan disuruh pulang lagi ama pihak rumah sakit, belum boleh masuk ke ruang labor, boros waktu, tenaga, transport. Kenapa disuruh pulang lagi? Karena jarak dari 1a ke 1b bisa jadi masih lebih dari 1 hari jadi dianggap masih lama. Istri saya termasuk darah rendah, jadi dokter bilang klo tanda no 5 kemungkinan besar tidak akan muncul. Ketika tanda2 tersebut muncul, maka telepon ke rumah sakit sambil memberitau informasi ttg kondisi istri kita. Contoh cara menelpon rumah sakit bisa download disini.

Photo 8-17-16, 15 31 33 (1)

Adapun penjelasan proses melahirkan secara umum dibagi ke 4 Fase:

  1. Fase kontraksi sampai bukaan maksimal.
    Pada fase ini, kita berada di ruang labor / ruang kontraksi (jintsuushitsu 陣痛室). Fase ini bisa berlangsung antara 10-12 jam untuk orang yang melahirkan pertama kali, atau 4-6 jam untuk yang sudah pernah melahirkan. Untuk yang bayinya besar, bisa jadi lebih lama lagi. Nah saya lupa nanya ke susternya, ini dimulai dari ketika kontraksi sudah periode per 10 menit atau bukan, tapi kayaknya ketika periodenya sudah mulai sering. Pada fase ini, istri diminta untuk bernafas secara normal, dan ketika makin sakit diharapkan ambil nafas lebih dalam dan keluarkan seperti meniup lilin. Disini kita boleh makan, minum, atau sambil melakukan hal lainnya.
  1. Fase mengeluarkan kepala bayi.
    Apabila bukaan telah maksimal, maka istri akan dipindahkan ke ruang melahirkan (bunbenshitsu 分娩室). Disini adalah proses inti dari melahirkan yaitu mengeluarkan kepala bayi. Fase ini bisa berlangsung sekitar 2-3 jam untuk melahirkan pertama, atau 1 – 1,5 jam untuk yang sudah pernah melahirkan. Apabila kepala bayi sudah keluar, insya Allah proses selanjutnya jauh lebih mudah. Ketika kontraksi datang, maka kita harus tetap tenang (ochitsuite 落ち着いて) kemudian tarik nafas dalam dalam (shinkokyuu 深呼吸) sebanyak 2 kali, kemudian dorong /mengejan (ikinde いきんで). Kalau sakit, maka ambil nafas sekali lagi baru dorong. Ketika kontraksinya hilang, maka ambil nafas dalam2 lagi dan jangan mengejan. Begitu terus timingnya sampai bayi berhasil didorong keluar. Setelah bayi berhasil didorong keluar, maka kepalanya akan keluar duluan dan katanya susternya bakal ngomong (kode) atama ga detekimashita (頭が出てきました). Ini adalah tanda bahwa fase ini telah berhasil dilewati dan sang ibu sudah tidak boleh mendorong (mengejan) lagi.
  1. Fase mengeluarkan bayi dan plasenta.
    Setelah kepala bayi keluar, maka sang ibu sudah tidak boleh mendorong (mengejan) lagi karena katanya dorongannya bakal sangat kencang dan bayi bisa merosot cepat. Yang perlu dilakukan ibu pada fase ini adalah nafas pendek dan cepat seperti orang ngos-ngosan, hu..hu..hu.. katanya sich mereka bakal ngomong (kode) mou ikimanaide (もういきまないで) yang artinya sudah tidak perlu didorong lagi. Pada fase ini, para suster bakal menarik pelan pelan sang bayi supaya bisa keluar dengan tenang. Setelah bayi keluar semua, mereka katanya bakal ngomong omedetou gozaimasu yang artinya selamat. Jadi Ibu udh bisa tenang. Setelah itu mereka akan mengeluarkan plasenta, bisa terasa sakit bisa juga tidak, tapi katanya tidak akan sesulit mengeluarkan bayi.
  1. Kanguru care.
    Pada fase ini, bayi akan diletakan diatas dada sang ibu, jadi bisa terjadi skin contact langsung pada saat itu juga. Kemudian juga ketika ASI sang ibu sudah keluar, sang bayi bisa langsung menyusu pada ibunya. Banyaknya ASI yang keluar bagi tiap ibu berbeda2 volumenya, ada yang langsung banyak ada yang sedikit sedikit, tapi sang ibu tidak perlu khawatir karena katanya lama-lama juga akan keluar banyak.

 

Barang yang perlu dibawa ke Rumah Sakit

Barang barang dan dokumen yang perlu dibawa ke rumah sakit udah kami persiapkan sebelum week 37, supaya klo ternyata lahirnya di week 37 udah siap pergi ke rumah sakit. Barang barang apa saja yang perlu dibawa ada dikasih tau di buku petunjuk rumah sakit. Selain itu juga mereka ngasih tau barang apa saja yang akan disediakan dari rumah sakit, jadi tidak semuanya perlu kita bawa.

Untuk Tama byouin, semua perlengkapan bayi disediakan dari rumah sakit, jadi yang perlu dibawa adalah perlengkapan ibu, dan perlengkapan bayi ketika keluar rumah sakit. Barang yang perlu dibawa adalah:

  1. Kartu berobat, hoken, boshitecho, hanko, uang deposit 5man, uang untuk keperluan lain lain, alat tulis dkk.
  2. Pajama panjang yang kancing depan, untuk melahirkan.
  3. Stagen, atau bahasa jepangnya jutsugoyou haraobi (術後用腹帯). Di tama byouin basement ada yang jual, atau klo beli di luar, bisa juga produk sejenis seperti sofutobirei (ソフトビレイ) atau wesutonippa (ウェストにッパー). Bawa minimal 2 biar bisa ganti.
  4. Makanan, minuman, sedotan. Air putih disuruh minum minimal 1 botol yang 2L sehari (dan airnya beli sendiri di konbini, gak disediain RS, haha)
  5. Perlengkapan ibu selama di RS: Pajama menyusui (bagusnya yg kancing depan), pakaian dalam, handuk, alat mandi, tisu, earphone klo mau nonton tv, sandal, obat obatan klo ada.
  6. Perlengkapan bayi: sapu tangan gauze (ガーゼハンカチ), baby lotion yg milky type, sama baju untuk pulang dari RS ke rumah.
  7. Lain lain yg gak disuruh bawa tapi perlu: Jam meja buat timer bayi menyusui, karena untuk bayi baru lahir perlu diatur jadwal dan durasinya.

 

The Main Event: Melahirkan

Melahirkan (bahasa jepangnya ada 2: shussan 出産 atau bunben 分娩) adalah proses yang kami tunggu2 dan harap2 cemas menghadapinya. Selain karena ini pertama kali, tidak ada keluarga juga yang datang ke jepang jadi semua perasaan campur aduk. Impian semua calon ibu sepertinya sama, bisa melahirkan dengan lancar, normal, serta keamanan jiwa untuk ibu dan bayi. Namun tidak semuanya itu ideal, setiap orang akan menghadapi ujian dan kondisinya masing2, jadi kita harus selalu siap dengan segala hal yang akan terjadi.

Istri saya melahirkannya melebihi waktu perkiraan lahir. Diperkirakan lahir 30 Mei tapi sampai awal Juni tak kunjung muncul tanda2nya. Periksa rutin terakhir dokter di week 39 dibilang bahwa udah tinggal menunggu saja, dan klo sampai week 41 gak keluar juga maka kami harus segera masuk rumah sakit dan diinduksi. Jadwal masuk rumah sakit adalah 6 Juni pagi, 7 Juni di induksi sampai 8 Juni, klo gak ada tanda2 juga maka 9 Juni di sesar. Kami mengikuti aja saran dokternya yang terbaik. Intinya sudah tidak ada kontrol rutin lagi dan datang selanjutnya adalah ketika melahirkan atau jadwal induksi tersebut.

Namun takdir berkata lain, kamis malam jam 11an, istri saya ragu kok ada keluar air tapi gak ada perasaan kencing. Airnya sedikit jumlahnya. Wah, ini adalah salah satu pertanda air ketuban pecah, namun kami sama2 ragu apa benar pecah atau tidak. Tapi karena susternya pernah bilang bahwa tanda pecah ketuban itu memang tidak bisa dipastikan, maka silahkan telpon saja dan datang supaya diperiksa. Akhirnya saya telpon taxi dan rumah sakit. Persiapan sudah oke, dan kami berangkat ke rumah sakit. Tiba di rumah sakit masuk lewat pintu emergency, melapor satpam, kemudian ke receptionist emergency. Setelah itu disuruh ke lantai 3 tempat melahirkan. Disana dicek apakah memang betul pecah ketuban atau enggak oleh susternya dan ternyata memang betul pecah ketuban. Akhirnya masuk ke labor room dan istri saya disuruh tidur disana. Saya juga boleh menemani dan duduk di kursi di samping. Istri dipasang berbagai sensor di perutnya untuk mendeteksi denyut bayi, mirip alat cek NST. Setelah selesai memasang, maka hanya tinggal menunggu saja. Ditunggu sampai bukaan maksimal baru masuk ke ruang delivery. Sambil menunggu kita boleh makan, minum, atau tidur juga gpp. Karena itu tengah malam, akhirnya saya dan istri memutuskan untuk tidur saja sebentar supaya ada tenaga. Dan saya pun tidur di lantai, untung bawa sejadah jadi pake alas sejadah, hehe..

Sekitar subuh saya bangun untuk shalat, istri juga bangun dan mungkin gak bisa tidur karena udh deg2an juga. Sambil menunggu kita makan snack dan minum. Tidak sabar menanti kehadiran buah hati. Pagi suster dan dokter datang untuk mengecek, ternyata bukaan pintu rahim masih sangat kecil. Baru 1-2 cm. lalu dokternya bilang, karena ini sudah pecah ketuban, maka harus di induksi. Akhirnya saya dan istri setuju kemudian di induksi. Dosis pertama diberikan sedikit dulu. Lumayan ada efeknya tapi masih kecil banget. Istri saya mulai terasa sakit kontraksi, tapi bukaan masih sekitar 2-3 cm. setelah 2 jam, dosis ditingkatkan. Bacaan sensor juga menunjukan pola kontraksi sudah normal, tapi bukaan pun masih belum maksimal, hanya sekitar 3-4 cm. Dosis ini dibiarkan sekitar 2 jam juga. karena ternyata bukaan tak kunjung maksimal, dosis sudah ditingkatkan, dan air ketuban sudah mau habis, maka dokter mengatakan klo tidak mungkin lagi menunggu normal, harus di sesar. Setelah itu dosis induksi kalau tidak salah diturunkan lagi, kemudian dikosongkan. Setelah tidak dalam pengaruh induksi dan air ketuban sudah habis total tapi kondisi bayi masih sehat, maka istri saya disuruh puasa sekitar 3 jam sebelum operasi sesar dan tidak boleh minum air. (disini saya jadi teringat manfaat berpuasa, yang bahkan minum air pun tidak boleh, supaya benar2 dibersihkan dulu seluruh pencernaan kita). Istri saya pun ikhlas harus menjalani sesar demi keselamatan buah hati kami juga.

Sekitar jam 3 istri bersiap2 masuk ruang operasi, memakai baju ganti, dan jilbab harus dilepas dan diganti penutup kepala khusus ruang operasi. Saya disuruh menunggu diluar dan dikasih HP internal rumah sakit, katanya nanti klo sudah selesai bakal ditelpon. Hapenya model flipflop, bukan smartphone, dan bahasa jepang jadi gak bisa saya maenin juga,hehe.. Akhirnya saya menunggu diruang tunggu sambil berdoa supaya baik baik saja. Kebetulan ada dokumen2 rumah sakit juga jadi saya bisa sambil baca2 sedikit belajar kanji. Shalat asar di ruang tunggu. Dan gak lama kemudian di telpon ama susternya dan dibilang selamat bayinya sudah lahir dengan sehat. Saya dipersilahkan masuk dan menunggu di ruang tunggu dalam dekat kamar menginap. Trus entah kenapa nunggunya agak lama, sekitar 30 menit kayaknya..

Tidak lama kemudian, sang suster datang membawa bayi kami di kotak plastik-kaca gitu, dibawahnya dilapisi alas dan handuk jadi seperti kasur. Kotaknya pun sedikit miring jadi bayinya tidurnya tidak datar tapi sedikit diatas kepalanya. Tanpa bantal. Kotak tersebut bawahnya tersambung dengan link bar setinggi sekitar 1 meter dan ada rodanya. Didalam kotak itu ada sensor untuk mendeteksi kadar O2 dan denyut jantung bayi dan terhubung wireless ke pusat monitor susternya. Dan tentunya di dalam kotak itu ada bayi kami yang super lucu, matanya merem, tangannya masih keriput, dan nangisnya itu kenceng banget. Waaaaaaaa… saya tidak bisa berkata apa apa, lucu banget, inilah anak kami.. mungil, fragile, nangisnya kenceng.. susternya bilang selamat ya, trus ngomong macem2, tapi saya gak inget dia ngomong apa, kayaknya saya gak merhatiin dech, haha.. saya ngomong iya iya aja.. saya cuma ingat, klo di sensor ini kadar oksigennya sampai dibawah 90 (% klo gak salah), hubungi susternya.. kemudian susternya pergi. Saya cuma bisa nyolek2 bayi saya, foto2, dan memandanginya.. belum berani menggendong karena belum diajarin (dan terlihat sangat fragile).

Setelah beberapa lama susternya datang lagi, kemudian bilang istri saya sudah bisa ditemui di kamar menginapnya, dan bayinya juga disuruh dibawa, kemudian dilakukan kangoroo care. Kangoro care itu bayi diletakkan diatas dada ibunya, kemudian sang bayi akan berusaha mencari letak susu ibunya. Proses mencarinya gak ribet kok, namanya juga bayi blom bisa gerak, intinya kepalanya diltakkan dekat puting susu ibunya dan kemudian sang bayi mulai menyusui. Alhamdulillah istri saya sehat dan ASInya keluar dengan lancar. Kami hanya bisa bersyukur melihat anak kami begitu sehat dan lahap minum susu. Selesai minum susu, saya diajarin susternya cara gendongnya, cara memegang kepalanya. Setelah bisa menggendong, akhirnya saya bisa gendong2 dan bawa kemana2.. setelah semua urusan beres dan susternya bilang sudah aman, sudah boleh istirahat dan bebas, maka saya gendong dan azankan bayi kami. Pelan pelan saja, gak mungkin juga teriak2 di kupingnya kan.. kemudian iqamat di telinga satu lagi. Setelah itu saya tidurkan di kotaknya lagi. Saya meyakini bahwa mengazankan bayi bukanlah hal yang wajib, hanya anjuran saja, jadi tidak perlu kita buru2 setelah lahir segera diazankan, kapan saja bisa.

Tak terasa, segala sesuatu berjalan begitu cepat. Hari ini pukul 15:55, Jum’at 3 Juni 2016, putri kami yang diberi nama Megumi Tsabisa A., berat 2,9 kg panjang 46 cm, lahir dengan selamat di Tama Byouin, Kawasaki. Saatnya membuka lembaran hidup baru, dengan berbagai tantangan dan harapan kedepannya.

IMG_4500

 

Panduan Merawat Bayi Pasca Melahirkan

Setelah melahirkan, pihak rumah sakit mengajarkan berbagai macam hal, mulai dari cara memandikan bayi, cara merawat, decoding the baby cry, dan berbagai hal lainnya terkait kesehatan bayi. Luar biasa memang pelayanan RS di jepang, mereka memang seolah2 menyiapkan kita supaya siap merawat bayi ketika keluar dari rumah sakit. Selain itu juga ada layanan kunjungan oleh kesehatan masyarakat dari kuyakusho, jadi mereka bisa datang ke rumah dan menjelaskan berbagai hal juga sambil melihat lingkungan tempat bayi tinggal. Untuk dokumen yang perlu diurus pasca melahirkan akan dijelaskan di part 3, di bagian ini saya jelaskan hal2 yang diajarkan oleh pihak rumah sakit.

Pertama diajarkan cara menggendong. Yang terpenting pertama adalah pegang bagian kepalanya yang bagian belakang telinga dan leher. Ini penting supaya kepala tidak terjungkal ketika diangkat. Kemudian bisa angkat bagian pantatnya, jadi pegangan ada dua yaitu kepala dan pantat. Setelah terbiasa, nanti cara gendongnya udah terserah kita aja, haha.. Menggendong ini penting karena bayi juga bosen tidur terus. Ketika bayi tumbuh besar, maka berat bayi akan bertambah dan cara menggendong bayi akan menjadi olah raga tersendiri buat kita.

Kedua diajarkan cara menyusui. Bayi yang baru lahir sampai 1-2 bulan sebaiknya dibuat teratur menyusuinya, walaupun nanti bayi akan punya keinginan sendiri kapan mau nyusu kapan mau tidur. Bayi harus disusui paling lama tiap 3 jam. Durasi sekali menyusui sekitar 10-20 menit. Setelah menyusui, bayi jangan langsung ditidurkan karena nanti bisa tersedak, jadi harus di burping terlebih dahulu. Cara burping ada beberapa macam, tapi yang paling baik adalah bayi digendong vertical ke dada dan pundak kita, kemudian kita sambil tepuk2 perlahan punggungnya. Setelah bayi sendawa, maka bayi sudah boleh ditidurkan. Kalua belum sendawa terus kita tidurkan, ada kemungkinan bayi mengeluarkan gumoh, bekas asi, seperti keluar iler banyak dari mulut tapi gak muntah. Dan biasanya bayi gak nyaman klo belum sendawa. Selain itu ada kemungkinan juga bayi cekukan/hiccup. Cara menghilangkannya gak diajarkan, Cuma katanya itu wajar wajar aja kok. Paling kita gendong2 sambil tepuk2 aja biar hilang, atau klo masih mau nyusu bisa dikasih lagi.

Ketiga diajarkan cara mengganti popok. Popok jepang biasanya bagian luarnya ada indicator garisnya. Klo garis yang awal warnanya kuning kena pipis/beol, maka garis itu berubah warna jadi hijau. Jadi kita bisa melihat apakah bayi pup atau enggak dari luar popoknya. Ketika mengganti, pegang kedua kakinya dan angkat keatas perut supaya pantatnya keliatan jelas dan bisa kita bersihkan. Semprotkan pantat bayi dengan air pakai spray, kemudian baru lap dengan tisu basah / wipes bayi yang tidak mengandung alcohol. Cara membersihkannya pertama di bagian kelamin dulu, trus jangan balik lagi tapi dioles dari atas ke bawah pantat. Jadi bagian kelamin tidak kotor kena pup.

Keempat diajarkan cara memandikan bayi. Bayi mandi menggunakan air hangat kira2 suhu 37-39 derajat. Jangan terlalu panas jangan juga dingin. Bak mandi digunakan untuk membershikan badan sampai kaki, dan gunakan bak/ember terpisah untuk membersihkan kepala. Pastikan ketika memandikan, salah satu tangan kita digunakan untuk selalu memegang kepala bagian belakang telinga dan leher, dan satu tangan lagi bisa digunakan untuk menggosok badan bayi. Ketika memandikan, bagian atas terlebih dahulu terus ke bawah, mulai dari kepala lalu terakhir pantat yg bagian paling kotor. Terakhir seluruh badan bayi di bilas menggunakan air yang di ember untuk kepala, karena air tersebut paling bersih dan tidak ada bekas kotoran badan.

Kelima dijelaskan tentang kesehatan bayi. Secara umum suhu badan normal bayi adalah 36.5 – 37.5 derajat celcius. Apabila melebihi 38 derajat, sebaiknya dibawa ke dokter. Mereka gak nyebut sich gimana klo dibawah 36, tapi kayaknya klo badan terlalu dingin juga gak bagus dan sebaiknya dibawa ke dokter. Selain itu apabila ada tanda tanda lain yang kurang sehat, muntah (bukan gumoh), yellow skin, atau tidak mau menyusui sebaiknya dibawa ke dokter. Apabila pup bayi berwarna hitam, merah, putih, diare, maka periksa juga ke dokter dan dibawa bekas popoknya itu. Tanda bayi sehat dan berkomunikasi adalah melalui tangisan. Apabila bayi menangis, maka kemungkinannya adalah: mau nyusu, pup atau kencing, bosan tidur terus minta digendong, ngantuk mau tidur, ruangan terlalu panas atau dingin, atau bisa juga bayi nangis karena pengen aja jadi klo gitu digendong, diayun2, diajak ngobrol, dll. Kalo bayi menangis terus padahal kita sudah mencoba semua kombinasi decoding tangisan bayi, maka sebaiknya konsultasikan ke dokter juga.

Keenam dijelaskan tentang pemeriksaan bayi setelah usia satu bulan (ikkagetsu kenshin一ヶ月検診). Di jepang ini bayi wajib diperiksa ke dokter setelah usia satu bulan. Pada intinya sich bayi ingin dilihat kesehatannya setelah tinggal satu bulan bersama kita, kebersihan bayinya, ada kelainan atau tidak, dll. Kemudian, bayi akan diberikan vitamin K2, jadi 1 jam sebelum periksa ke dokter bayi tidak boleh menyusui. Nanti biasanya bayi akan menangis karena kelaparan, tapi kita harus tega dan membiarkan menangis, justru ketika seperti itu bayi jadi lahap ketika dikasih vitamin K2. Selain itu, kalau bayi disusuin dalam rentang 1 jam sebelum dan 30 menit setelah dikasih vitamin, ada kemungkinan muntah jadi gak bagus.

Terakhir dijelaskan macam macam seperti vaksinasi, dll. Tapi nampaknya kita coba bahas di tulisan terpisah saja selanjutnya terkait merawat bayi. Oh iya, ketika datang kunjungan dari kuyakusho, kita juga dapat buku panduan macam macam, tapi yang tidak kalah penting adalah dikasih lagi kupon diskon belle maison 2000yen, buku panduan bermain dengan bayi, dan buku gambar anak. Adapun terkait kebutuhan/perlengkapan bayi yang diperlukan di rumah sudah dibuat tulisannya oleh istri saya disini.

 

Summary

Begitulah kurang lebih pengalaman kami menjelang dan ketika melahirkan. Tahap selanjutnya adalah merawat bayi sebaik mungkin dan periksa ke dokter apabila sakit. Seluruh biaya berobat untuk bayi adalah gratis asalkan kita urus iryosho, kartu kesehatan bayi, yang akan saya bahas di part 3. Untuk pengalaman awal kehamilan dapat dilihat di part 1.

In conclusion, delivery probably is an anxious, stressed, yet exciting experience for the family. Approaching the delivery, there are several things need to be prepared when you decided to deliver your baby in Japan:

  1. Apply for Delivery lumpsum from kuyakusho.
    Usually we don’t need to apply for this because we can automatically get this lumpsum if we already register our pregnancy and got the boshitecho from kuyakusho. At the time of admission on the hospital, they will give us a consent form to let the hospital retrieve the money directly from kuyakusho.
  1. Premama orientation is an explanation from the hospital to the soon-to-be parents about the delivery process and baby life. They also explained the detail about the sign of approaching delivery and how to strive on the delivery process.
  2. The sign of delivery can be divided into 5 indication:
    1. Contraction, with interval every 10 minutes, or in one hour there are 6 times or more contraction
    2. Water breaking or membrane rupture, the placental water is leaking without the feeling of urination. Even if you feel doubt whether the water is breaking or not, just contact the hospital and go there to confirm your condition.
    3. If you have a bleeding with a fresh blood discharge or large volume of blood is flowing. This condition is considered as irregular/abnormal condition.
    4. A very strong pain on the stomach or other part of your body.
    5. You have a dizziness, headache, vertigo, or eyes flickering which is very disturbing.
      If you have all the condition above, contact the hospital and go there directly. In addition, if there is no fetus movement for more than 1 hour, you need to go to the hospital as soon as possible.
  1. Things to bring to the hospital for the delivery mostly is the clothes for the mother while staying in the hospital, clothes for delivery, and waist nipper for the belly after the delivery. All the baby items are provided by the hospital. In addition, bring one clothes for the baby when go home from the hospital.
  2. About the delivery process, pray and enjoy it.
  3. After the delivery, the nurse will explain many things about the baby’s life. They will explain about how to carry your baby, about breastfeeding, change the diaper, baby’s bath, baby’s health, etc.

Next, the documents that need to be handle after the delivery will be explained in part 3. as for the experience in early stage of pregnancy had been described in part 1.

 

To be continue..