Ash

Menjadi bagian dalam pembuktian bahwa Islam adalah Rahmatan lil Alamin

Dreams

2 Comments

Banyak orang bercita cita. Ada yg tinggi sekali, sedang, bahkan sangat sederhana. Ada yg realistis ada juga yg idealis. Kadang orang dilihat dan dinilai orang lain dari apa yg dicita citakannya.

Misalkan, ketika wawancara kerja, beasiswa, program pertukaran, program internship. Sejauh yg saya tau, selalu ada pertanyaan yang arahnya : what is your reason for applying this program, what will you do if you get accepted this company, etc.

Ada juga yg klo ditanya cita citanya apa? Jawabnya sederhana mau masuk surga.. Salah? Tidak. Tidak konkrit? Bergantung pada perencanaan yg dibuat untuk meraih cita cita itu..

Kalau hanya sekedar ingin, tanpa ada usaha/perjuangan utk meraihnya, maka itu bukan cita cita, hanya keinginan saja..

Akhir akhir ini, saya banyak melihat orang mengungkapkan cita2nya.. Mulai dari ingin buka bisnis sampai keliling dunia..
Itu semua bagus, karena dengan cita cita itulah hidup jadi bersemangat..

Namun saya jd merenung, kalau cita cita ingin buka bisnis, hanya sekedar supaya jadi kaya,, lalu nanti kekayaan itu mau buat apa? Ngasih makan anak istri? Klo itu, apa harus kaya dulu? Supaya bisa beramal? apa harus kaya dulu baru beramal? Supaya bahagia? Banyak juga yg miskin/seadanya tapi tetap bahagia.. Ingin jalan jalan keliling dunia? Lalu kalau sudah keliling, nanti mau buat apa pengalamannya? Buat pameran aja? Atau buat ditulis jadi buku, supaya menginspirasi.. Lha itu mah cita2nya bukan keliling dunia, tapi mau menginspirasi orang melalui buku,, ga harus keliling dunia..
Dan juga contoh2 lainnya..

Ada yg bilang, punya cita2 harus konkrit supaya jelas parameter meraihnya, ada juga yg bilang setinggi tinggi ya, semakin terlihat impossible semakin cita cita namanya..
Hmm..

Entah kenapa yg saya kepikiran, buat apa cita2 itu nanti, adakah manfaatnya? Benarkah prosesnya meraihnya? Apakah Allah ridho dgn itu?
Sia sia usaha kita kalau ternyata ga ada nilainya di mata Allah..

“Sesungguhnya manusia yang pertama kali akan diadili—pada pengadilan akhirat nanti—adalah seseorang yang mati dalam peperangan (mati syahid),” jawab Abu Hurairah mengutip hadis Rasulullah SAW.

Abu Hurairah berkata, “Dihadapkanlah orang tersebut kepada Allah SWT, lalu disodorkan amalannya dan Allah pun Maha mengetahuinya.” Kemudian, Allah SWT bertanya, “Apa saja yang kamu kerjakan ketika di dunia?” Orang tersebut menjawab, “Saya berperang di jalan-Mu ya Allah, sampai-sampai saya mati terbunuh.”

Allah berfirman, “Kamu bohong, yang benar kamu berperang supaya kamu dapat dikatakan sebagai ‘pahlawan’ dan mereka telah menyebutmu demikian.” Lalu, Allah memerintahkan malaikat untuk menyingkirkan orang tersebut dari hadapan-Nya dan melemparnya ke dalam neraka.

Ada juga seseorang yang belajar Alquran dan mengajarkannya kepada orang lain. Lalu, dihadapkanlah orang tersebut kepada Allah SWT. Diajukanlah amal orang tersebut kepada-Nya dan Dia-pun Maha mengetahui. Kemudian, Allah SWT bertanya, “Apa yang kamu kerjakan waktu di dunia?” Orang itu menjawab, “Saya belajar Alquran dan telah pula mengajarkannya.”

“Kamu bohong, kamu belajar Alquran supaya dikatakan sebagai orang pandai, ulama, atau intelektual. Engkau membaca Alquran supaya dikatakan sebagai orang yang mampu membaca Alquran dengan baik, dan itu semua sudah dikatakan oleh mereka.” Lalu, Allah memerintahkan malaikat untuk menyingkirkan orang tersebut dari hadapan-Nya serta melemparkannya ke dalam neraka.

Setelah itu, ada seseorang yang diberi keluasan harta oleh Allah SWT, lalu dihadapkanlah orang tersebut. Diajukanlah amal orang tersebut kepada-Nya dan Allah pun Maha Mengetahui. Allah SWT bertanya, “Apa yang kamu kerjakan ketika di dunia?” Orang tersebut menjawab, “Saya telah infakkan harta yang saya miliki demi Engkau, ya Allah.”

Allah berfirman, “Kamu bohong, kamu melakukan semua itu supaya kamu dikatakan orang yang dermawan, dan itu sudah dikatakan oleh mereka.” Lalu, Allah SWT memerintahkan kepada malaikat untuk menyingkirkan orang tersebut dari hadapan-Nya serta melemparkannya ke dalam neraka,”

HR Muslim.

Advertisements

Author: ashlih

electrical engineering ITB no gakusei desu

2 thoughts on “Dreams

  1. Prasangka baik aja sama Allah. Lalu kembali kejar cita-cita kita dgn harapan dan doa semoga Allah memberi petunjuk agar cara dan tujuan kita diridhoi olehNya.

  2. Mari selalu lusruskan niat 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s