Ash

Menjadi bagian dalam pembuktian bahwa Islam adalah Rahmatan lil Alamin

UTS Perdana

Leave a comment

Bismillahirrahmanirrahim..

Akhirnya UTS kalkulus pertama kelar juga. Banyak hal hal baru yang gw sadari pada saat UTS maupun setelah UTS. Sebuah persoalan mudah, yang sudah biasa kita pecahkan, bisa menjadi persoalan yang rumit. Jika kita biasa mengambil keputusan tanpa memperhatikan kebutuhan orang lain,  maka kita hanya akan mendapatkan hasil yang kurang disukai oleh semua pihak. Jika itu hanya masalah yang kecil, mungkin bisa kita abaikan begitu saja, tapi jika masalah tersebut merupakan “big decision” maka kehati hatian dan ketelitian mutlak diperlukan. Selain itu dibutuhkan kesabaran untuk mendapatkan kebijakan yang tepat. Suatu soal (X – 2) < (akar)2 mungkin dapat dengan mudahnya kita kuadratkan begitu saja tanpa memperdulikan kebutuhan dari (akar)2. Tidak ada aturan perhitungan dasar yang dilanggar, tetapi dalam sebuah permasalahan “inequation” kita tidak boleh mengkuadratkan begitu saja untuk mendapatkan hasil yang akurat. Kita harus membiarkan sifat dari pihak (akar)2 sehingga tercipta hubungan yang harmonis antara semua pihak. Salah satu metodenya adalah dengan memindahkan (menjumlahkan/mengurangkan) (akar)2. Dengan ini solusi sebuah pertaksamaan akan disukai oleh semua pihak dan kita akan mendapatkan hasil yang lebih akurat (jika langsung dikuadratkan, solusinya adalah 1<X<4. Jika kita jumlahkan/kurangkan dengan (akar)2 maka solusi yang diperoleh adalah 0<X<4.) Sebuah soal yang terbungkus dengan kemudahan tetapi sebenarnya memerlukan perlakuan khusus untuk diselesaikan.

Jika seandainya kita menjadi bagian dari sebuah pertaksamaan, apakah kita ingin diabaikan begitu saja? Atau kita ingin mengabaikan begitu saja sehingga pada suatu saat nanti kita akan menjadi hasil yang tidak solutif? Mungkin kita sempat berpikir bahwa memberikan sedekah kepada tukang minta minta itu hal yang sudah tidak penting lagi. Sudah terlalu banyak yang minta minta. Atau memberikan sumbangan kepada korban bencana juga sudah tidak terlalu penting lagi karena sudah terlalu banyak bencana? Sehingga kita dapat dengan mudahnya memberikan solusi “mengkuadratkan” langsung begitu saja karena kebiasaan. Kita membiarkan sebuah solusi karena sebuah kebiasaan bukan karena kesadaran? Bagaimana dengan shalat kita, puasa kita, tilawah kita? kebiasaan atau kesadaran? Masih mending yang ibadah, kalo yang maksiat? Berbohong, tidak peduli , sombong? Kalo sadar itu salah, kenapa masih dilakukan? Kalo di soal kalkulus kan kalo tau itu salah kita ga bakal ngelakuin lagi (kecuali kalo lupa)? Emangnya kita mau dapat nilai jelek? Apa kita mau nilai kita dikasih jelek sama Allah? Apa kita mau remedial di neraka?

Semoga Allah tidak murka dengan sifat/kebiasaan kita.. amin..

Advertisements

Author: ashlih

electrical engineering ITB no gakusei desu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s