Ash

Menjadi bagian dalam pembuktian bahwa Islam adalah Rahmatan lil Alamin

entahlah

Leave a comment

Bismillahirrahmanirrahim..

Apa yang terlintas di benak anda ketika anda sudah menikah nanti? Apakah anda akan tetap memiliki etos kerja yang baik? Apakah anda masih bersikap tolong menolong terhadap sesama? Apakah anda masih akan tetap bersemangat untuk berdakwah? Atau apakah anda hanya akan hidup bersama suami/istri anda saja, melakukan apa saja agar keluarga anda bahagia? Jika selama kita hidup, kita berorientasi agar mendapat banyak uang, mendapatkan jodoh, atau agar dipuji oleh orang lain, tentu setelah tercapai kita merasa seperti tidak perlu melakukan apa apa lagi, betul tidak?? Jika hal ini sampai terjadi, maka kita ibaratnya memasuki tahap “mati”. Mati visi, mati motivasi, mati kreativitas, mati dll.

Mungkin kita memiliki cita cita untuk membangkitkan Bangsa ini. Telah banyak solusi yang kita buat supaya hal itu bisa tercapai. Mungkin kita sempat terpkir untuk bekerja dengan perusahaan asing agar dapat gaji yang besar, kemudian baru mulai mengurus bangsa. Apakah ada jaminan bahwa anda akan kaya kemudian benar benar sempat mengurus bangsa? Semua orang bilang masalah bangsa adalah masalah yang terlalu besar, terlalu luas, atau bahkan bukan urusan kita… yang penting kita bisa menghidupi keluarga. Ibarat kita mengendarai sebuah motor, kemudian jalanan sangat macet karena terlalu banyak kendaraan. Kita pun berusaha dengan lihainya agar bisa segera keluar dari kemacetan itu. Setelah lewat, kita pergi begitu saja dengan membiarkan peristiwa itu. Apakah benar kita memiliki keberanian untuk mengurus bangsa yang sebenarnya jauh lebih macet daripada jalanan tadi? Atau apakah jangan jangan kita seperti pa ogah (orang yang membantu mobil untuk berputar jalan)? Menolong mobil yang ingin berputar dengan posisi di sebelah kanan jalan, padahal yang dibutuhkan oleh pengemudi adalah orang yang membantu melihat sebelah kiri jalan, karena masih berharap pada uang.

Terlalu sulit untuk mengatakan bahwa kita tidak butuh uang. Kadang enak sekali berpikiran bahwa kita dapat memiliki banyak uang dengan jerih payah kita sendiri, kemudian uang tersebut menjadi hak penuh kita. Kadang kita berpikir sulit sekali untuk mengikuti semua sifat sifat sahabat Rasulullah saw. Apalagi sifat Rasulullah saw? Ketika Khalifah Abu bakar memimpin, ia mendapat biaya penghidupan dari baitul mal secara pas pasan. Kemudian ketika istrinya ingin membeli manisan, ia berkata kepada khalifah bahwa ia menabung sedikit demi sedikit demi dapat membeli manisan tersebut. Setelah peristiwa itu, Khalifah Abu bakar mengatakan kepada pengurus baitul mal agar gajinya dikurangi sejumlah yang berhasil dihemat istrinya. Apakah masih mungkin kita untuk mengikuti hal itu? Atau apakah kita lebih suka memiliki gaji yang lebih besar?

Kadang kita harus bergelut dengan idealism betapa pentingnya uang, atau jangan jangan kita telah memahami bahwa uang bukanlah segalanya, tetapi apakah yang akan kita lakukan setelah kita benar benar tidak mempunyai uang? Bagaimana mungkin mengurusi suatu Bangsa kalo kita masih tidak nyaman dengan diri kita sendiri..

Bagaimana mungkin Bangsa kita akan maju jika kita semua masih memiliki pemikiran seperti itu, atau bagaimana mungkin Dakwah kita akan berjalan jka kita masih berpikiran seperti tadi?

Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum jika kaum tersebut tidak mau mengubah keadaannya.

Allah adalah sebaik baik pemberi rezeki

Wallahua a’lam bisshawab

Advertisements

Author: ashlih

electrical engineering ITB no gakusei desu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s